Marak Terjadi Perundungan, Siswa Didorong Lebih Peka Hadapi Bullying dan Cyberbullying di Era Digital
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Gunungkidul, tvOnenews.com — Kemampuan menggunakan teknologi digital perlu diimbangi dengan kecakapan memahami perasaan orang lain. Hal itu menjadi salah satu pesan yang disampaikan melalui implementasi SIKOMHATI.ID kepada siswa SMK YPKK Tepus, Gunungkidul demi membangun komunikasi yang lebih sehat, empatik, dan bebas dari perundungan.
Program yang dilaksanakan pada 1 September 2026 tersebut mengajak siswa mengenali bullying dan cyberbullying sekaligus memahami pentingnya berpikir sebelum merespons, mengelola perasaan, serta mempertimbangkan dampak komunikasi terhadap orang lain.
SIKOMHATI.ID merupakan prototipe digital yang mengusung konsep Komunikasi Hati, dengan empat unsur utama berupa olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati. Prototipe ini dikembangkan melalui kolaborasi penelitian yang melibatkan UPN “Veteran” Yogyakarta, Balai Tekkomdik Daerah Istimewa Yogyakarta, dan SMA Negeri 2 Playen dengan dukungan pendanaan penelitian terapan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek Tahun 2026.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan materi mengenai bullying dan cyberbullying, tetapi juga diajak berbagi pengalaman mengenai hubungan pertemanan di lingkungan sekolah.
Diskusi menunjukkan bahwa perundungan tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang secara langsung dianggap serius. Ejekan, komentar mengenai kondisi fisik, maupun perkataan yang dianggap sebagai candaan dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap orang.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika komunikasi berlangsung di ruang digital. Pesan, komentar, dan respons dapat dikirim dengan cepat tanpa adanya interaksi tatap muka yang memungkinkan seseorang melihat secara langsung reaksi penerimanya.
Karena itu, kemampuan berempati menjadi bagian penting dalam konsep Komunikasi Hati. Siswa diajak memahami sudut pandang dan perasaan orang lain sebelum memberikan respons, termasuk ketika berkomunikasi melalui media digital.
Selain memberikan materi edukasi, siswa juga diperkenalkan dengan berbagai fitur dalam SIKOMHATI.ID. Salah satu yang menarik perhatian adalah konseling anonim yang memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan persoalan ketika mereka belum merasa nyaman mengungkapkannya secara langsung.
Lia, siswi kelas X Tata Busana menilai fitur tersebut dapat membantu siswa yang masih sulit terbuka mengenai persoalan yang dihadapi.
Sementara itu, Mahya, siswi kelas X Tata Busana mengaku mendapatkan pengalaman baru dari penerapan SIKOMHATI.ID. Menurutnya, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai bullying dan cyberbullying, tetapi juga mengenal sarana yang dapat digunakan ketika menghadapi persoalan di sekolah.
Fitur yang memungkinkan siswa menyampaikan masalah kepada guru Bimbingan dan Konseling juga dinilai mudah dipahami.
Salah satu bagian dari materi Komunikasi Hati adalah mengajak siswa mengenali kondisi emosional dalam diri yang disebut sebagai “sampah hati”, seperti iri, benci, dendam, dan ego.
Pengenalan terhadap emosi tersebut diarahkan agar siswa mampu memahami kondisi dirinya sebelum mengambil tindakan atau memberikan respons kepada orang lain.
“Mari ubah sampah hati menjadi energi yang memberi semangat kepada diri untuk lebih berprestasi,” ajak Prof. Dr. Puji Lestari, dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus pencipta prototipe SIKOMHATI.ID saat menjelaskan konsep tersebut kepada siswa.
Pendekatan ini menempatkan pengelolaan emosi dan empati sebagai bagian dari kemampuan komunikasi, bukan sekadar persoalan menyampaikan pesan dengan baik.
Program selanjutnya dilakukan melalui pendampingan literasi. Siswa diharapkan tidak hanya memahami materi, tetapi juga membiasakan diri melakukan refleksi, mengolah pikiran dan perasaan, membangun empati, serta berani menyampaikan persoalan ketika menghadapi bullying.
Pada akhir rangkaian literasi, siswa akan memperoleh sertifikat capaian kompetensi Komunikasi Hati berdasarkan level Tahu, Tanggap, atau Tangguh. (Scp/Ard)
Load more