Persaingan Kampus Makin Ketat, Perguruan Tinggi di Yogyakarta Mulai Siapkan Skenario Penerimaan Mahasiswa Baru
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Bantul, tvOnenews.com — Persaingan penerimaan mahasiswa baru yang semakin ketat mendorong perguruan tinggi menyusun strategi yang lebih adaptif.
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menyiapkan tiga skenario target penerimaan mahasiswa baru untuk tahun depan, yakni 6.000, 5.000, dan 4.000 mahasiswa dengan mempertimbangkan dinamika persaingan serta kebutuhan pendanaan operasional kampus.
Rektor UAD, Muchlas MT mengatakan, penerimaan mahasiswa baru merupakan agenda rutin yang dievaluasi setiap tahun. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan kick-off Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UAD di Yogyakarta, Senin (12/10/2026).
"UAD berupaya menjaring mahasiswa melalui berbagai skema, baik jalur beasiswa maupun jalur reguler," ujarnya.
Muchlas menegaskan, peningkatan kepercayaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menghadapi persaingan antarperguruan tinggi. Upaya tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan relevansi lulusan terhadap kebutuhan dunia kerja.
"Intinya, kita ingin terus meningkatkan usaha-usaha agar di tengah situasi persaingan penerimaan mahasiswa baru yang semakin ketat, kita harus bisa memberikan performansi di hadapan masyarakat bahwa UAD menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk melanjutkan kuliah," paparnya.
Dalam perencanaan penerimaan mahasiswa baru, kampus menyiapkan tiga alternatif target. Skenario pertama menetapkan sasaran 6.000 mahasiswa. Jika kondisi tidak memungkinkan, target diturunkan menjadi 5.000 mahasiswa, kemudian menjadi 4.000 mahasiswa apabila situasi belum mendukung.
Penentuan skenario akan mempertimbangkan perkembangan data pendaftaran secara real time. Perubahan jumlah pendaftar akan menjadi dasar evaluasi untuk menentukan target yang sesuai dengan kondisi aktual.
"Plan A misalnya kita punya target 6.000. Kalau tidak, kita turunkan 5.000. Kalau plan C, kita turunkan lagi targetnya menjadi 4.000. Semua nanti berimplikasi pada pendanaan operasional yang akan kita jalankan," jelasnya.
Muchlas menilai, salah satu tantangan pendidikan tinggi di Yogyakarta adalah semakin berkembangnya perguruan tinggi berkualitas di berbagai daerah. Jika sebelumnya Yogyakarta menjadi salah satu tujuan utama calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan, kini mereka memiliki lebih banyak pilihan di daerah asal.
Sejumlah perguruan tinggi di daerah bahkan telah memiliki kualitas pendidikan yang baik dan akreditasi unggul. Kondisi tersebut membuat kampus di Yogyakarta perlu menawarkan keunggulan lain di luar aspek akademik untuk menarik minat calon mahasiswa.
"Karena sudah sama, keunggulan sudah sama, jadi harus mencari diferensiasi yang lain. Misalnya keunikan, kenyamanan, dan juga mungkin ada faktor-faktor yang lain," jelasnya.
Persaingan juga berlangsung di tingkat lokal. Menurut Muchlas, Kota Yogyakarta memiliki lebih dari 100 perguruan tinggi swasta. Banyaknya kampus yang menyasar kelompok calon mahasiswa serupa membuat setiap institusi perlu memiliki keunggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selain faktor persaingan antardaerah dan antarkampus, regulasi pemerintah mengenai mekanisme penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta turut menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi.
Karena itu, penetapan target secara bertahap dinilai dapat membantu kampus menyesuaikan perencanaan penerimaan dan pendanaan operasional dengan perkembangan situasi.
Menanggapi usulan penghapusan jalur mandiri di PTN, Muchlas menilai mekanisme penerimaan mahasiswa baru perlu disertai pemantauan dan evaluasi oleh pemerintah. Menurutnya, pengaturan kuota serta jadwal penerimaan menjadi dua aspek penting untuk menjaga keseimbangan persaingan antara perguruan tinggi negeri dan swasta.
"Tidak ada masalah asal ada monitoring dan evaluasi dari sisi kuota maupun dari sisi penjadwalan. Dua itu saja, kalau penjadwalan dan kuota jangan sampai overlap dengan perguruan tinggi swasta," ujarnya.
Ia menambahkan, selama pemerintah belum memberikan subsidi penuh kepada PTN, jalur mandiri masih menjadi salah satu bagian dari pengelolaan perguruan tinggi tersebut.
Meski demikian, penataan kuota dan jadwal penerimaan diperlukan agar proses seleksi tidak saling bertabrakan dan jumlah mahasiswa yang diterima tidak berlebihan.
Penataan kebijakan penerimaan mahasiswa baru diharapkan dapat menciptakan persaingan yang lebih adil antara perguruan tinggi negeri dan swasta. Dengan demikian, kedua jenis institusi dapat memperoleh mahasiswa sekaligus berkontribusi memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. (Scp/Ard)
Load more