Tarif Trump 32% Bikin RI Kalang Kabut, DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Ini untuk Selamatkan Industri Dalam Negeri
- Anadolu
Selain itu, kerja sama dengan negara-negara yang juga terkena dampak tarif bisa membuka jalan untuk strategi bersama dan mempercepat perjanjian perdagangan bebas.
“Kita juga perlu untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS dengan memperluas ekspor ke negara lain seperti Uni Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Begitupun dengan upaya mempercepat perjanjian dagang dengan negara mitra untuk membuka peluang ekspor baru,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa produk ekspor RI selama ini cukup bergantung pada pasar AS, khususnya untuk barang elektronik, pakaian, alas kaki, palm oil, karet dan turunannya, perabot rumah, ikan dan udang, serta makanan olahan laut.
Evita juga menyinggung dua negara lain yang jadi pasar penting ekspor nonmigas Indonesia, yaitu China dan India.
Data dari Kemendag menunjukkan bahwa sepanjang 2024, ketiga negara tersebut menyumbang 42,94% dari total ekspor nonmigas nasional.
“Dengan China dan India kita tampaknya cukup baik, tapi kita perlu mencari pasar baru dan membuka peluang ekspor baru sehingga ketika terjadi masalah produk ekspor kita tetap aman,” kata Evita.
Sebagaimana diketahui, pada 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan kebijakan tarif impor baru.
Dalam pidatonya, Trump mengatakan langkah ini sebagai bagian dari Liberation Day serta strategi besar untuk membebaskan ekonomi Amerika dari ketergantungan pada impor.
Semua barang impor kini dikenai tarif dasar sebesar 10 persen, tetapi negara-negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS mendapat tarif tambahan.
Dalam aturan tersebut, Indonesia kena tarif sebesar 32%. Kebijakan ini berkaitan dengan defisit perdagangan AS terhadap RI yang pada 2024 tercatat mencapai USD14,34 miliar.
Bagi eksportir Indonesia, hal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Pasalnya, industri tekstil, alas kaki, furnitur, karet, hingga perikanan selama ini mengandalkan pasar AS sebagai salah satu tujuan utama ekspor.
Tarif baru yang diterapkan Trump berpotensi membuat produk RI kehilangan daya saing, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara yang dikenai tarif lebih rendah. (rpi)
Load more