Harga Emas Dunia Hampir Sentuh US$5.000 per Ounce, Investor Panik FOMO di Tengah Ketidakpastian Global
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru dan kini semakin dekat dengan level psikologis US$5.000 per ons. Lonjakan tajam ini dipicu kombinasi risiko geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, serta pelemahan dolar Amerika Serikat yang mendorong investor memburu aset safe haven.
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, kontrak emas Comex untuk pengiriman Januari ditutup naik 1,4 persen ke level US$4.976,20 per ons. Sementara itu, harga perak melonjak lebih tajam dengan kenaikan 5,1 persen hingga menembus US$100,925 per ons, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Dalam sepekan terakhir saja, harga emas melonjak 8,4 persen, sedangkan perak melesat 14,6 persen. Sepanjang Januari, emas telah menguat sekitar 15 persen dan melesat 79 persen dibandingkan setahun lalu. Perak bahkan melonjak 44 persen sepanjang bulan ini dan meroket hingga 225 persen secara tahunan.
Analis menilai reli emas kali ini bukan sekadar spekulasi pasar, melainkan mencerminkan meningkatnya kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian arah kebijakan global, terutama dari Amerika Serikat.
“Momentum sudah menjadi bagian dari cerita besar, dengan FOMO (fear of missing out) terlihat jelas ketika harga bergerak ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Ole Hansen, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, dalam catatannya.
Meski ketegangan geopolitik sedikit mereda setelah Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok Greenland dari Denmark, kebijakan luar negeri AS tetap memicu kegelisahan pasar. Ancaman Trump sebelumnya bahkan mendorong sejumlah perusahaan investasi dan dana pensiun Eropa menilai ulang kepemilikan obligasi AS mereka.
Menurut analis, emas kini semakin dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan Presiden Trump, termasuk risiko konflik dagang antara Amerika Serikat dan Eropa. Menariknya, reli emas tetap berlanjut meski ancaman tarif yang sempat mengemuka kini mereda.
Selain faktor geopolitik, permintaan bank sentral yang kuat, pelemahan dolar AS, serta tingginya penerbitan utang pemerintah global tanpa kejelasan skema pembayaran jangka panjang turut menjadi penopang utama kenaikan harga emas.
Sementara itu, lonjakan harga perak juga didukung oleh permintaan fisik yang kuat dari China. Namun, Hansen memperingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan konsumsi dalam jangka panjang.
“Risiko penurunan permintaan tidak bisa diabaikan jika harga naik terlalu cepat dan terlalu tinggi. Kondisi ini bisa mendorong rotasi kembali ke emas,” ujarnya.
Saat ini, rasio harga emas terhadap perak telah turun drastis menjadi sekitar 50 banding 1, level terendah dalam 14 tahun terakhir. Pada April lalu, rasio ini masih berada di kisaran 105 banding 1. Secara historis, penurunan tajam rasio tersebut kerap menjadi sinyal bahwa kinerja perak relatif terhadap emas mulai terlalu panas.
Dengan harga emas yang tinggal selangkah lagi dari US$5.000 per ons dan perak menembus US$100, pasar kini bersiap menghadapi volatilitas tinggi, seiring investor global terus mencari perlindungan di tengah lanskap ekonomi dan politik yang semakin tidak pasti. (nsp)
Load more