Incar Dana hingga Rp170 Triliun, Pemerintah Siap Terbitkan 8 SBN Ritel Tahun Ini
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah akan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebanyak delapan kali sepanjang tahun ini.
Instrumen pembiayaan tersebut ditujukan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam pembiayaan negara sekaligus memperkuat basis investor domestik.
Melalui penerbitan SBN ritel, pemerintah menargetkan penghimpunan dana pada kisaran Rp150 triliun hingga Rp170 triliun.
Target tersebut sejalan dengan strategi pembiayaan APBN yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan fiskal.
Rencana penerbitan SBN ritel ini juga diharapkan memberikan alternatif investasi yang aman bagi masyarakat, dengan jadwal penawaran yang tersebar hampir sepanjang tahun agar investor memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas.
Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menjelaskan bahwa pemerintah tidak menetapkan target penerbitan SBN ritel dalam satu angka pasti. Menurutnya, pemerintah menggunakan rentang target untuk menjaga fleksibilitas pembiayaan.
Pada tahun lalu, pemerintah menetapkan target penerbitan SBN ritel di kisaran Rp150 triliun hingga Rp170 triliun. Dari target tersebut, realisasi penghimpunan dana tercatat mencapai Rp153 triliun.
“Tahun ini berapa? Saya sampaikan sekitar Rp150 triliun hingga Rp170 triliun,” kata Novi.
Secara rinci, penawaran SBN ritel sepanjang 2026 adalah sebagai berikut:
1. Obligasi Ritel Negara (ORI) ORI029: 26 Januari-19 Februari 2026
2. Sukuk Ritel (SR) SR024: 6 Maret-15 April 2026
3. Sukuk Tabungan Negara (ST) ST016: 8 Mei-3 Juni 2026
4. ORI030: 6-30 Juli 2026
5. SR025: 21 Agustus-16 September 2026
6. SWR007: 4 September-21 Oktober 2026
7. SBR015: 28 September-22 Oktober 2026
8. ST07: 6 November-2 Desember 2026
Novi menegaskan bahwa jadwal tersebut bersifat tentatif, namun tetap dapat dijadikan acuan bagi investor untuk menyiapkan dana investasi.
“Jadwalnya tentatif. Tapi biasanya, kalaupun bergeser, ya geser satu-dua hari saja,” tambah Novi.
Ia memastikan penawaran SBN ritel akan tersedia hampir sepanjang tahun, dengan jeda antar penerbitan yang relatif singkat, yakni sekitar satu hingga dua minggu.
Pola ini memberi ruang bagi investor untuk mengatur strategi pembelian secara bertahap sesuai kondisi keuangan masing-masing.
Selain melalui pasar perdana, investor juga memiliki opsi bertransaksi di pasar sekunder untuk seri SBN ritel yang bersifat tradable.
Instrumen seperti ORI dan Sukuk Ritel dapat dibeli kembali di pasar sekunder apabila investor melewatkan masa penawaran awal.
“Jadi kalau tidak dapat kesempatan pasar perdana, pasar sekunder juga bisa,” tuturnya.
Dengan skema penerbitan yang berkesinambungan dan pilihan transaksi yang fleksibel, pemerintah berharap minat masyarakat terhadap SBN ritel tetap kuat sekaligus mendukung pembiayaan negara secara berkelanjutan. (ant/rpi)
Load more