Free Float Masih Rendah, Saham-Saham Ini Dinilai Punya Prospek Bisnis Menjanjikan
- Antara
Dari sisi valuasi, saham PGEO masih relatif murah dengan price to book value (PBV) sekitar 1,39 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis tiga tahunnya di 1,58 kali, dan jauh di bawah emiten energi terbarukan lain yang sudah diperdagangkan di level valuasi sangat tinggi.
PGEO juga masih memiliki sisa dana IPO sekitar Rp4 triliun untuk ekspansi bisnis, khususnya di sektor energi panas bumi. Pada Januari 2026, PGEO ditetapkan sebagai pemenang seleksi Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) wilayah panas bumi Cubadak Panti di Sumatera Barat, dengan potensi cadangan mencapai 77 MWe. Proyek ini memperkuat pipeline pertumbuhan jangka panjang PGEO di sektor energi bersih.
2. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
BRIS mencatat free float sekitar 9,91%, masih jauh di bawah ambang batas baru. Opsi paling realistis untuk meningkatkan free float adalah masuknya investor strategis, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, atau lembaga investasi negara.
Momentum bisnis BRIS juga sedang menguat. Pada akhir Januari 2026, Bank Mandiri resmi melaporkan bahwa mereka tidak lagi mengonsolidasikan laporan keuangan BRIS, setelah hak Saham Seri A Dwiwarna pemerintah dialihkan kepada PT Danantara Asset Management sebagai pengelola investasi nasional. Dengan rampungnya proses tersebut, BRIS kini berstatus sebagai bank BUMN persero yang berdiri sendiri, setara dengan bank-bank besar nasional lainnya.
Posisi ini dinilai membuka ruang lebih besar bagi ekspansi bisnis syariah nasional, sekaligus meningkatkan daya tarik BRIS di mata investor institusi domestik maupun asing.
3. PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
ADMR memiliki free float sekitar 11,97%, dan dinilai berpotensi mencatatkan kinerja positif seiring transformasi bisnis ke sektor hilirisasi aluminium. Meski sempat terdampak volatilitas pasar, tren harga saham ADMR masih terjaga dalam jalur kenaikan jangka menengah.
Katalis utama ADMR berasal dari pembangunan smelter aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Kalimantan Utara, dengan target kapasitas penuh hingga 500.000 ton per tahun secara bertahap. Proyek ini didukung pasokan alumina dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), sehingga rantai pasok terintegrasi dan efisien.
Load more