Goldprice Bergejolak Tajam! Bank Sentral Dunia Rem Mendadak, Ternyata Ini Penyebabnya
- Antara Foto
Jakarta, tvOnenews.com – Pergerakan Goldprice global dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan volatilitas ekstrem. Setelah sempat menembus rekor tertinggi, Goldprice justru berayun tajam dan memicu perubahan strategi para pembeli terbesar di pasar, yakni bank sentral dari berbagai negara.
Laporan analis komoditas dari Goldman Sachs menyebut lonjakan dan koreksi cepat Goldprice membuat banyak bank sentral memilih menunda akumulasi emas, meski minat jangka panjang tetap kuat. Kondisi ini menandai fase “wait and see” di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Goldprice Sempat Cetak Rekor, Lalu Terkoreksi Tajam
Pada awal tahun, Goldprice sempat melesat hingga menyentuh level historis di atas 5.500 dollar AS per ounce. Reli Goldprice didorong kombinasi permintaan investasi, pembelian institusi, serta strategi diversifikasi cadangan devisa.
Namun, hanya dalam waktu singkat, Goldprice anjlok hampir 9 persen dan sempat menyentuh kisaran 4.400 dollar AS. Fluktuasi tajam ini mengguncang pasar dan membuat investor mempertanyakan apakah reli Goldprice masih berlanjut atau justru memasuki fase koreksi panjang.
Meski demikian, Goldprice kembali rebound ke area 5.100 dollar AS, menunjukkan bahwa daya tarik emas sebagai aset lindung nilai belum pudar.
Bank Sentral Jadi Motor Utama Goldprice
Data World Gold Council menunjukkan bank sentral membeli sekitar 1.000 ton emas pada 2023 dan 2024. Angka tersebut turun menjadi sekitar 900 ton pada 2025, tetapi dilakukan pada level Goldprice yang lebih tinggi.
Artinya, kenaikan Goldprice dalam beberapa tahun terakhir tidak semata didorong investor ritel, melainkan akumulasi besar-besaran oleh otoritas moneter dunia yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Fenomena ini menguat sejak pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022, yang menjadi alarm bagi banyak negara untuk mendiversifikasi aset ke emas. Sejak saat itu, strategi lindung nilai melalui emas langsung mengerek Goldprice secara struktural.
Volatilitas Bikin Bank Sentral Tahan Belanja
Meski prospek Goldprice dinilai masih bullish, lonjakan volatilitas membuat sebagian bank sentral enggan membeli di harga tinggi. Mereka cenderung menunggu stabilisasi sebelum kembali masuk pasar.
Analis menilai gejolak Goldprice saat ini dipicu oleh aktivitas sektor swasta yang melakukan diversifikasi melalui instrumen derivatif seperti opsi emas. Mekanisme ini memperbesar ayunan harga dan membuat pergerakan Goldprice tampak lebih agresif dibandingkan fundamentalnya.
Dengan kata lain, tekanan jangka pendek pada Goldprice bukan karena lemahnya permintaan, melainkan perubahan cara investor mengakses pasar.
The Fed Jadi Faktor Penentu Arah Goldprice
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi variabel penting bagi arah Goldprice. Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas mengecil sehingga Goldprice biasanya menguat.
Prospek pelonggaran moneter inilah yang diperkirakan kembali menopang Goldprice hingga akhir 2026, terutama jika inflasi tetap menjadi perhatian global.
UBS: Koreksi Goldprice Hanya “Reset”, Bukan Akhir Reli
Pandangan senada datang dari UBS yang menilai penurunan tajam Goldprice sebagai fase penyesuaian, bukan perubahan tren.
Menurut UBS, Goldprice saat ini masih sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan level tahun sebelumnya, menandakan fondasi permintaan tetap solid. Bank tersebut melihat kisaran 4.500–4.800 dollar AS sebagai zona di mana fundamental kembali mendominasi pergerakan Goldprice.
Permintaan bank sentral diproyeksikan mencapai 950 ton pada 2026, sementara arus masuk ETF emas juga diperkirakan meningkat. Kombinasi ini diyakini menjaga Goldprice tetap dalam tren naik jangka menengah.
Goldprice dan Pergeseran Strategi Investasi Global
Kenaikan Goldprice tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap ekonomi dunia. Ketegangan geopolitik, kekhawatiran fiskal di negara maju, serta ketidakpastian pasar obligasi mendorong investor mencari aset yang dianggap netral secara politik.
Dalam konteks ini, emas kembali menjadi jangkar stabilitas, sehingga Goldprice berperan sebagai indikator ketidakpastian global.
Namun, jika volatilitas terus tinggi, pembelian emas oleh bank sentral bisa tertahan sementara. Sebaliknya, jika pasar kembali tenang, akumulasi emas diperkirakan meningkat lagi dan mendorong Goldprice ke level yang lebih tinggi.
Prospek Goldprice 2026 Masih Bullish
Sejumlah proyeksi memperkirakan Goldprice dapat bergerak menuju 5.400 dollar AS per ounce pada akhir 2026. Bahkan dalam skenario optimistis, Goldprice berpotensi menembus 6.000 dollar AS jika permintaan lindung nilai meningkat tajam.
Artinya, meski sempat bergejolak, narasi besar Goldprice masih bertumpu pada tiga faktor utama: pembelian bank sentral, ekspektasi suku bunga lebih rendah, dan meningkatnya risiko geopolitik.
Dengan kombinasi tersebut, pasar menilai koreksi saat ini lebih sebagai jeda dalam reli panjang Goldprice, bukan pembalikan arah. (nsp)
Load more