Produk Surya RI Kena Palu Trump: Tarif 104 Persen Mengguncang Ekspor Indonesia ke AS
- dok.humas Prabowo
Besaran tarif ini membuat harga produk Indonesia di pasar AS melonjak drastis, bahkan berpotensi tidak lagi kompetitif dibandingkan produk lokal maupun negara lain yang tidak terkena kebijakan serupa.
Bukan Kali Pertama, Asia Jadi Target Tarif Surya AS
Langkah ini melanjutkan tren panjang proteksionisme AS terhadap produk panel surya asal Asia. Selama lebih dari satu dekade, AS secara konsisten mengenakan tarif tinggi terhadap panel surya murah yang banyak diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan China.
Sebelumnya, AS juga telah mengenakan tarif tinggi terhadap produk serupa dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Dampaknya signifikan: impor panel surya dari keempat negara tersebut langsung merosot tajam.
Kini, giliran Indonesia yang masuk daftar sasaran kebijakan perdagangan ketat Washington.
Gugatan Industri Surya AS di Balik Kebijakan
Kebijakan tarif 104 persen ini merupakan tahap pertama dari dua keputusan penting dalam kasus perdagangan yang diajukan oleh Alliance for American Solar Manufacturing and Trade. Aliansi ini mewakili sejumlah raksasa industri panel surya AS seperti Hanwha Qcells, First Solar, dan Mission Solar.
Pengacara utama aliansi, Tim Brightbill, menyebut keputusan DOC sebagai langkah krusial untuk memulihkan persaingan yang adil di industri surya AS. Menurutnya, miliaran dolar investasi untuk membangun pabrik dan menciptakan lapangan kerja akan sia-sia jika impor murah terus membanjiri pasar.
Ancaman Tambahan Masih Mengintai
Masalah bagi Indonesia belum selesai. Bulan depan, DOC dijadwalkan mengeluarkan keputusan lanjutan untuk menilai apakah produsen dari Indonesia, India, dan Laos menjual produk mereka di AS di bawah biaya produksi (dumping).
Jika tuduhan dumping terbukti, bukan tidak mungkin tarif tambahan akan kembali dikenakan. Artinya, hambatan ekspor produk energi surya Indonesia ke AS bisa semakin berat.
Pukulan bagi Ekspor Energi Terbarukan RI
Tarif 104 persen ini menjadi ujian serius bagi ambisi Indonesia di sektor energi terbarukan global. Di satu sisi, Indonesia tengah mendorong hilirisasi dan ekspor produk ramah lingkungan. Di sisi lain, kebijakan proteksionis negara tujuan ekspor justru mempersempit ruang gerak industri nasional.
Load more