IHSG Berpeluang Bergerak Dinamis Pekan Ini, Pasar Cermati Risiko Geopolitik dan Arah Energi Global
- istimewa - antaranews
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit neraca transaksi berjalan melalui peningkatan nilai impor migas. Di saat yang sama, volatilitas rupiah berpotensi meningkat, terutama jika disertai kenaikan imbal hasil obligasi global.
“Jika rupiah melemah dan yield global naik, volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” kata Imam.
Dengan demikian, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek sangat ditentukan oleh keseimbangan antara manfaat kenaikan harga energi bagi emiten komoditas dan potensi tekanan inflasi yang dapat mengganggu stabilitas makroekonomi.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Mahkamah Agung AS belum lama ini membatalkan sebagian tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan pada era Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. Kondisi tersebut memaksa pemerintah AS mencari dasar hukum baru untuk mempertahankan kebijakan tarif tertentu.
Sebagai respons, Trump kembali mewacanakan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen. Di saat yang sama, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif yang cukup tinggi.
Imam menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan kinerja ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait. Hal ini menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan investor dalam menilai prospek pasar domestik.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada peringatan dari S&P Global Ratings terkait meningkatnya tekanan fiskal Indonesia. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan berada di atas ambang 15 persen, level yang kerap menjadi tolok ukur penting dalam penilaian kesehatan fiskal suatu negara.
Meski outlook peringkat kredit Indonesia saat ini masih dipertahankan stabil, peringatan tersebut dinilai menambah sikap kehati-hatian investor, terutama di tengah gejolak global yang belum mereda.
“Isu global dan domestik ini menciptakan kombinasi kehati-hatian di pasar keuangan, baik global maupun domestik,” ujar Imam.
Memasuki awal Maret 2026, pelaku pasar juga akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting, mulai dari PMI Manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, inflasi, hingga data ketenagakerjaan dan aktivitas ekonomi dari Amerika Serikat dan China. Data-data ini akan menjadi penentu tambahan arah pergerakan pasar.
Load more