IHSG Dibuka Melemah di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS, Investor Diminta Waspada Volatilitas
- istimewa - antaranews
Serangan Militer Picu Kekhawatiran Meluasnya Konflik
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel. Di sisi lain, jet tempur Amerika Serikat dan Israel juga terus melakukan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Situasi semakin memanas setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk. Selain itu, drone Iran yang memasuki wilayah Azerbaijan menambah kekhawatiran bahwa konflik berpotensi meluas ke negara-negara produsen energi lainnya.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat ingin memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya, yang semakin menambah ketegangan geopolitik.
Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memperingatkan bahwa konflik ini dapat menguji ketahanan ekonomi global. Jika berlangsung lama, perang berpotensi memicu tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Ketegangan di Timur Tengah langsung berdampak pada pasar energi global.
Harga minyak dunia melonjak tajam karena kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Berikut pergerakan harga minyak dunia:
-
Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel
-
West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,51 persen menjadi 81,01 dolar AS per barel
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kebijakan moneter banyak negara, termasuk Amerika Serikat.
Perlambatan Ekonomi China Juga Jadi Sentimen Negatif
Selain konflik geopolitik, pasar juga mencermati perlambatan ekonomi China yang dibahas dalam forum Two Sessions.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap ekonomi Indonesia karena China merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia.
Pada 2025, porsi ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai sekitar 24 persen atau senilai 64,82 miliar dolar AS.
Jika aktivitas industri China melemah, permintaan terhadap komoditas dan bahan baku dari Indonesia juga berpotensi menurun.
Dampak perlambatan ekonomi China juga dapat terasa pada sektor investasi.
Sepanjang 2025, China tercatat sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia dengan realisasi investasi sekitar 7,5 miliar dolar AS.
Secara historis, setiap perlambatan ekonomi China sebesar 1 persen dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.
Load more