ADRO Gas Pol Buyback Rp5 Triliun, Strategi Besar Alamtri Dongkrak Harga Saham dan Kepercayaan Investor
- Adaro Energy
Rinciannya:
-
MeiāJuni 2025: ADRO membeli 33 juta saham (0,11%)
-
Juni 2025āFebruari 2026: ADRO menyerap 556,2 juta saham (1,89%)
Secara total, saham treasury ADRO saat ini mencapai sekitar 598,19 juta saham atau setara 2 persen dari total saham beredar.
Langkah konsisten ini menunjukkan bahwa ADRO Š°ŠŗŃŠøŠ²Š½Š¾ menjaga stabilitas harga sahamnya melalui strategi buyback.
Pergerakan Harga Saham ADRO Terkini
Berdasarkan data terbaru, harga saham ADRO pada 5 April 2026 berada di level Rp2.500 per saham. Angka ini mencerminkan:
-
Kenaikan 0,40% dalam 24 jam terakhir
-
Kenaikan 1,21% dalam satu bulan
-
Lonjakan 35,87% dalam satu tahun terakhir
Performa ini menegaskan bahwa ADRO masih menjadi salah satu saham yang menarik di sektor energi dan pertambangan.
Sepanjang sejarahnya, saham ADRO pernah mencapai:
-
Harga tertinggi: Rp4.300 (November 2024)
-
Harga terendah: Rp440 (Januari 2016)
Analis memproyeksikan harga ADRO berpotensi bergerak di kisaran Rp2.553 hingga Rp3.559 ke depan.
Kinerja Keuangan ADRO Masih Solid
Dari sisi fundamental, ADRO juga menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Pada laporan keuangan terakhir:
-
Pendapatan kuartal terakhir: Rp8,76 triliun
-
Melebihi estimasi: Rp8,52 triliun
-
Proyeksi kuartal berikutnya: Rp12,02 triliun
Namun, laba per saham ADRO tercatat lebih rendah dari ekspektasi, dengan realisasi 32,50 IDR dibanding estimasi 166,67 IDR.
Meski demikian, secara keseluruhan ADRO masih menunjukkan pertumbuhan bisnis yang stabil, terutama di sektor energi dan pertambangan batubara.
ADRO Bidik Momentum Investor
Langkah besar ADRO menaikkan nilai buyback menjadi Rp5 triliun dipandang sebagai strategi untuk menjaga momentum positif saham di tengah ketidakpastian global.
Dengan kombinasi antara kinerja keuangan yang solid dan aksi korporasi agresif, ADRO berupaya memperkuat posisinya sebagai salah satu emiten unggulan di Bursa Efek Indonesia.
Ke depan, pergerakan ADRO akan sangat ditentukan oleh realisasi buyback, kondisi harga komoditas, serta sentimen pasar global. (nsp)
Load more