Rupiah Tertekan ke Rp17.275 per Dolar AS, Gejolak Global dan Minyak Dorong Pelemahan
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Rabu pagi. Rupiah tercatat turun 32 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.275 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.243 per dolar AS. Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari dinamika geopolitik global dan lonjakan harga energi.
Pelemahan rupiah ini menambah daftar tekanan terhadap mata uang Asia yang terdampak ketidakpastian global. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah terus bergerak fluktuatif mengikuti sentimen pasar internasional yang belum stabil.
Rupiah Melemah Dipicu Ketegangan AS-Iran
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak lepas dari mandeknya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya memberi tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.
“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia, didorong oleh mandeknya negosiasi. Ini memicu kekhawatiran inflasi global dan menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ujar Josua.
Kondisi ini membuat rupiah semakin rentan terhadap sentimen eksternal, terutama ketika risiko global meningkat dan investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS.
Kenaikan Harga Minyak Bebani Rupiah
Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang memperlemah rupiah. Ketidakpastian terkait pasokan energi global, khususnya di kawasan Timur Tengah, memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Situasi di Selat Hormuz turut menjadi sorotan. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketika terjadi gangguan atau potensi penutupan, pasar langsung merespons dengan kenaikan harga energi.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berarti meningkatnya tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik, yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan rupiah.
Dampak Inflasi Global terhadap Rupiah
Lonjakan harga energi memicu ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah sulit menguat dalam jangka pendek.
Bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan akan mengambil kebijakan moneter yang lebih hati-hati. Namun di sisi lain, potensi suku bunga tinggi tetap menjadi ancaman bagi rupiah.
Ketika suku bunga global tinggi, aliran modal cenderung keluar dari negara berkembang, sehingga menekan rupiah lebih dalam.
Sentimen Tambahan: UAE Keluar dari OPEC
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026.
Keputusan ini menambah ketidakpastian pasar energi global. Bagi rupiah, kondisi ini berarti tambahan tekanan karena potensi volatilitas harga minyak yang semakin tinggi.
Josua menyebut keputusan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi, yang pada akhirnya berdampak langsung pada rupiah.
Pergerakan Rupiah Masih Terbatas
Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas. Analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.325 per dolar AS.
Kisaran ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam fase konsolidasi, namun dengan kecenderungan melemah jika sentimen global tidak membaik.
Pelaku pasar saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global, yang akan sangat menentukan arah rupiah ke depan.
Rupiah Masih Rentan Tekanan Eksternal
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah hari ini menegaskan bahwa faktor eksternal masih menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar. Mulai dari konflik geopolitik, harga minyak, hingga kebijakan bank sentral global, semuanya berkontribusi terhadap arah rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, stabilitas rupiah sangat bergantung pada meredanya ketegangan global dan kepastian kebijakan ekonomi internasional.
Selama ketidakpastian masih tinggi, rupiah berpotensi tetap berada di bawah tekanan, meskipun intervensi dan kebijakan domestik terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar. (ant/nsp)
Load more