Rupiah Sentuh Rp17.346 per Dolar AS, Anindya Bakrie Sebut Ancaman Sekaligus Momentum Dorong Ekspor
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Anindya juga menyinggung bahwa kondisi geopolitik global turut berperan dalam fluktuasi nilai tukar. Ia berharap ketegangan global, khususnya di kawasan Timur Tengah, dapat segera mereda agar stabilitas ekonomi kembali terjaga.
Dengan meredanya konflik global, diharapkan tekanan terhadap dolar AS juga dapat berkurang, sehingga nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat.
Surplus Perdagangan Jadi Penopang Utama
Lebih lanjut, Anindya menekankan bahwa indikator kunci yang harus dijaga adalah surplus neraca perdagangan Indonesia.
Selama Indonesia masih mencatat surplus perdagangan, peluang penguatan rupiah tetap terbuka.
Namun, ia mengingatkan bahwa jika surplus tersebut mulai menurun atau bahkan hilang, maka risiko terhadap stabilitas nilai tukar akan semakin besar.
“Selama perdagangan kita masih surplus, itu menjadi penopang utama. Tapi kalau mulai melemah, itu yang harus benar-benar diwaspadai,” tegasnya.
Daya Saing Produk Nasional Masih Kuat
Di tengah tekanan nilai tukar, Anindya melihat bahwa produk Indonesia masih memiliki daya saing yang baik di pasar global.
Permintaan terhadap produk nasional yang tetap stabil menjadi sinyal positif bahwa sektor riil masih mampu bertahan.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu identik dengan pelemahan ekonomi secara keseluruhan.
Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. (agr/nsp)
Load more