Kinerja Bumi Resources Melejit di Awal 2026, Laba Bersih Naik 35,2% Meski Harga Batu Bara Turun
- Bumi Resources
Jakarta, tvOnenews.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengumumkan kinerja keuangan kuartal pertama 2026 dengan capaian yang menunjukkan pertumbuhan solid.
Eskporti batu bara termal terbesar di dunia ini mencatat peningkatan pendapatan dan laba, meski menghadapi tekanan penurunan harga jual batu bara.
Dalam laporan pada 30 April 2026, BUMI menyampaikan hasil keuangan tidak diaudit untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, sebagaimana telah dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bumi Resources membuka tahun 2026 dengan performa positif. Pendapatan naik 19,7% menjadi US$417,7 juta dari sebelumnya US$348,8 juta.
Laba sebelum pajak juga melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan produksi dan penjualan batubara, serta efisiensi operasional melalui perbaikan strip ratio.
Faktor ini mampu menahan dampak penurunan harga jual rata-rata batu bara sebesar 10%. Dampaknya, margin operasi dan profitabilitas perusahaan meningkat di seluruh lini usaha.
Secara rinci, beban pokok pendapatan naik menjadi US$334,8 juta dari US$297,5 juta. Laba bruto melonjak 61,6% menjadi US$82,8 juta.
Sementara itu, laba usaha tumbuh 75,8% menjadi US$49,1 juta dengan margin usaha meningkat menjadi 11,7% dari sebelumnya 8,0%.
- BUMI
Laba bersih tercatat sebesar US$41,1 juta atau naik 36,6% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$24,1 juta, meningkat 35,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja ini mencerminkan kuatnya leverage operasional perusahaan. Pertumbuhan pendapatan mampu mendorong lonjakan signifikan pada laba usaha dan laba sebelum pajak. Peningkatan margin juga didukung oleh efisiensi biaya per ton di seluruh tambang utama.
"Ekspansi marjin ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara, serta perbaikan struktural pada strip ratio yang memperbaiki ekonomi per ton di seluruh operasi tambang utama Perseroan," kata Head of Corporate Communications, Ricco Surya, Kamis (30/4/2026).
Kinerja Operasional BUMI
Dari sisi operasional, produksi batubara naik 12% menjadi 19,2 juta ton.
Penjualan meningkat 14% menjadi 19,1 juta ton. Namun, harga rata-rata FOB turun menjadi US$58,6 per ton dari sebelumnya US$64,9 per ton.
Perusahaan juga mencatat perbaikan strip ratio dari 8,4 kali menjadi 7,7 kali. Hal ini menunjukkan perencanaan tambang yang lebih efisien dan berdampak pada penurunan biaya produksi. Meski volume pengupasan tanah meningkat 3%, efisiensi tetap terjaga.
Persediaan batubara turun menjadi 2,0 juta ton dari 2,4 juta ton. Penurunan ini mencerminkan tingginya tingkat penjualan yang sejalan dengan peningkatan produksi.
Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan volume penjualan sebesar 76 hingga 78 juta ton. Harga rata-rata diproyeksikan berada di kisaran US$60 hingga US$62 per ton, dengan biaya produksi sekitar US$43 hingga US$44 per ton.
Bumi Resources menegaskan komitmennya untuk menjaga momentum perbaikan operasional. Perusahaan juga akan tetap disiplin dalam alokasi modal serta melanjutkan strategi diversifikasi guna menghadapi fluktuasi siklus komoditas.
Dari sisi korporasi, perusahaan berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan paling lambat Juni 2026.
Selain itu, earnings call untuk membahas kinerja tahun buku 2025 dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 bersama analis dan investor.
"Pemberitahuan resmi dan informasi pendaftaran untuk kedua acara akan disampaikan secara terpisah," tutup Ricco.
Load more