Akademisi UMY Beberkan Efek Mengerikan Nilai Rupiah Lemah untuk Perbankan Syariah
- tim tvOne - Julio
Jakarta, tvOnenews.com - Sebagian publik soroti melemahnya nilai tukar rupiah hingga tembus di angka Rp17.698 per Dolar AS. Tak hanya publik, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma juga ikut soroti hal tersebut.
Bahkan Dimas Bagus Wiranatakusuma beberkan efek mengerikan dari lemahnya nilai tukar rupiah.
Kata dia, dampak depresiasi rupiah kini tidak lagi hanya menghantam sektor perbankan konvensional, tetapi juga mulai menguji stabilitas pembiayaan dan likuiditas bank syariah.
Lanjutnya menjelaskan, pelemahan rupiah membawa efek berantai melalui kenaikan harga barang impor yang kemudian mempengaruhi sektor riil dan kemampuan usaha dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.
Dia juga menyoroti karakteristik perbankan syariah yang mengedepankan prinsip kehati-hatian memang menjadi perisai awal.
Namun, transmisi efek pelemahan kurs melalui jalur inflasi produk impor di sektor riil tetap akan mengganggu kualitas pembiayaan syariah.
Pelemahan rupiah, lanjutnya juga akan langsung mempengaruhi pelaku usaha yang menjadi nasabah utama perbankan syariah, khususnya sektor usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin produksi, energi, hingga barang modal berbasis dolar AS.
Kenaikan biaya impor menyebabkan biaya produksi meningkat dan margin keuntungan perusahaan menurun.
"Dalam situasi tersebut, kemampuan nasabah membayar kewajiban pembiayaan kepada bank syariah ikut melemah. Di sinilah risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) mulai meningkat," kata Dimas.
Menurutnya, sektor perdagangan, manufaktur, tekstil, farmasi, hingga UMKM berbasis impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan Rupiah. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, tekanan terhadap kualitas pembiayaan bank syariah diperkirakan semakin besar.
Meski demikian, Dimas menilai bank syariah masih memiliki keunggulan dibanding perbankan konvensional karena eksposurnya terhadap instrumen valuta asing dan transaksi derivatif internasional relatif kecil.
Namun tekanan tetap dapat muncul dari sisi likuiditas. Ketika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas Rupiah, biaya penghimpunan dana di sektor keuangan ikut meningkat.
Bahkan menurutnya, kondisi ini tetap mempengaruhi industri perbankan syariah meskipun tidak menggunakan sistem bunga. "Dalam situasi ketidakpastian tinggi, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan likuiditas juga dapat dirasakan industri perbankan syariah," ujarnya.
Load more