Rupiah Ditutup Jeblok ke Rp17.966 per Dolar AS, Pengamat: Imbas Inflasi Naik dan Surplus Dagang Menyusut
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Mata uang rupiah ditutup melemah tajam hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dipicu kombinasi kenaikan inflasi domestik, menyusutnya surplus perdagangan, serta ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi.
Berdasarkan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah 127 poin ke level Rp17.966 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 130 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.839 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, sentimen terhadap rupiah memburuk seiring meningkatnya tekanan inflasi di dalam negeri.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 127 point sebelumnya sempat melemah 130 point dilevel Rp.17.966 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.839,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan berikutnya.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.960-Rp18.030,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah kenaikan inflasi pada Mei 2026. Data menunjukkan inflasi bulanan mencapai 0,28 persen, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13 persen.
“Sentimen mata uang rupiah memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (mtm), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08 persen secara tahun kalender,” katanya.
Ibrahim menjelaskan, kenaikan inflasi dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari harga pangan yang bergejolak, harga energi, harga yang diatur pemerintah, hingga pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri yang berdampak pada biaya impor.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya masih mencatatkan surplus perdagangan pada April 2026. Namun, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya sehingga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap ketahanan eksternal ekonomi nasional.
“Kemudian, neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2026 sebesar US$89,1 juta,” ujarnya.
Capaian itu memperpanjang rekor surplus perdagangan Indonesia menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus terutama ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan kelebihan perdagangan sebesar US$3,53 miliar.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa secara statistik kondisi tersebut tidak sepenuhnya menggembirakan karena surplus yang diperoleh mengalami penyusutan tajam.
“Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat selat hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” katanya.
Penyempitan surplus perdagangan di tengah meningkatnya inflasi menjadi kombinasi yang kurang ideal bagi perekonomian nasional.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap rupiah yang saat ini juga harus menghadapi ketidakpastian geopolitik global, terutama terkait ketegangan di Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap rantai pasok energi dunia. (agr/rpi)
Load more