Pertamina Percepat Transisi Energi Lewat Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon, Kurangi Emisi Metana hingga 40%
- Pertamina
Jakarta, tvOnenews.com - PT Pertamina terus memperkuat komitmennya menjaga ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih. Upaya ini dijalankan melalui strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy yang mengombinasikan penguatan bisnis konvensional dan pengembangan bisnis rendah karbon.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menyampaikan hal tersebut dalam sesi panel bertema “Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices” pada Rabu (3/6/2026).
Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific, forum regional yang membahas transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diinisiasi oleh World Bank Group.
Dalam presentasinya bertajuk "Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business", Agung menjelaskan langkah-langkah yang ditempuh Pertamina untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Menurut Agung, Pertamina mengusung visi menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan pengembangan bisnis rendah karbon. Langkah tersebut sejalan dengan agenda pembangunan yang tercantum dalam Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.
Ia menjelaskan bahwa transisi energi di Indonesia harus mampu menjawab tantangan energy trilemma, yakni menjaga keamanan pasokan energi, keterjangkauan harga energi, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan.
"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung dikutip Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, berbagai langkah dekarbonisasi yang dijalankan Pertamina menjadi salah satu contoh praktik yang dapat dipelajari oleh peserta forum dari berbagai negara.
“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.
Dalam program dekarbonisasi, Pertamina melakukan penggantian peralatan berbasis bahan bakar fosil dengan teknologi berbasis listrik. Program tersebut menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 juta ton setara karbon dioksida (MMtCO2e) atau berkontribusi sekitar 66,86 persen terhadap total pengurangan emisi perusahaan.
Load more