Indonesia Menuju Era Silver Economy, Bank Mandiri Taspen Ubah Peran Bank Jadi Pendamping Hidup Setelah Pensiun
- Ist
tvOnenews.com - Selama bertahun-tahun, bonus demografi selalu dipandang sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dominasi penduduk usia produktif diyakini mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus mendorong konsumsi dan investasi.
Namun, perlahan arah perubahan demografi mulai bergeser. Indonesia kini bersiap menghadapi fase baru ketika jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dan menjadi bagian penting dalam struktur masyarakat.
Fenomena tersebut bukan sekadar tantangan sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang sangat besar.
Di berbagai negara maju, kelompok usia senior atau senior citizen tidak lagi dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai pasar baru sekaligus sumber produktivitas.
Konsep inilah yang dikenal sebagai silver economy, yakni ekosistem ekonomi yang berfokus pada kebutuhan, kesejahteraan, dan pemberdayaan masyarakat lanjut usia.
Perubahan tersebut juga mulai menjadi perhatian berbagai pelaku industri, termasuk sektor perbankan. Layanan keuangan tidak lagi hanya berorientasi pada pembiayaan atau penghimpunan dana.
Akan tetapi berkembang menjadi pendamping masyarakat dalam mempersiapkan kehidupan yang sehat, aktif, dan sejahtera setelah memasuki masa pensiun.
Silver Economy Menjadi Peluang Baru Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai sekitar 11,97 persen dari total populasi.
Angka tersebut menandai Indonesia telah memasuki kategori ageing society menurut standar internasional.
Sementara itu, laporan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) bersama UNFPA memproyeksikan jumlah lansia akan mencapai sekitar 65,8 juta jiwa pada 2045.
Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia yang telah mencapai sekitar 74 tahun, sementara angka kelahiran terus menurun.
Pergeseran ini menuntut berbagai sektor untuk menyiapkan layanan yang lebih inklusif bagi masyarakat senior.
Sejumlah negara telah membuktikan bahwa populasi lansia dapat menjadi kekuatan ekonomi. Jepang, misalnya, mengembangkan berbagai inovasi mulai dari teknologi kesehatan, layanan perawatan lansia, wisata ramah senior, hingga kesempatan kerja paruh waktu bagi pensiunan.
Sementara Singapura memperkuat program active ageing melalui pusat komunitas, pelatihan keterampilan baru, dan dukungan bagi warga lanjut usia agar tetap aktif secara ekonomi maupun sosial.
Pendekatan serupa dinilai relevan diterapkan di Indonesia agar meningkatnya jumlah lansia tidak menjadi beban, tetapi justru menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Bank Mandiri Taspen Perkuat Transformasi Pendamping Masa Pensiun
Melihat perubahan demografi tersebut, PT Bank Mandiri Taspen memperkenalkan arah transformasi perusahaan melalui tema "Movin Closer, Going Stronger".
Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, mengatakan transformasi tersebut merupakan hasil strategic realignment yang dipersiapkan selama sekitar enam bulan.
Menurutnya, bank tidak lagi hanya menjalankan fungsi sebagai penyalur kredit, tetapi berkembang menjadi mitra masyarakat dalam menjalani kehidupan setelah pensiun.
"Bank Mandiri Taspen memposisikan diri bukan hanya sebagai penyalur kredit, tetapi menjadi life partner after retirement," ujar Panji di Plataran Ubud, Bali, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, saat ini jumlah warga senior di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 35 juta jiwa. Dalam satu dekade mendatang jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 50 juta orang, bahkan dapat mendekati 70 juta jiwa dalam dua dekade ke depan.
"Sugesti yang kami bikinkan buat calon-calon senior citizen adalah mereka mempersiapkan diri dari jauh sebelumnya. Jadi yang kita lakukan adalah kita membangun dan mendukung ekosistem. Bank Mandiri Taspen adalah bank pensiunan. Oleh karena itu, yang kami lakukan yang pertama, memberikan sosialisasi, Pak," tambahnya,
Karena itu, menurut Panji, kebutuhan masyarakat setelah memasuki masa pensiun harus dipersiapkan secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga kesehatan, aktivitas sosial, hingga kesejahteraan.
"Sebelum mereka memasuki usia pensiun, kami memberikan program sosialisasi. Artinya, apakah ketika pensiun tadi yang inginnya kan live longer, live happier. Bagaimana supaya panjang umur tapi happy dan sejahtera," tambahnya.
Dari Bank Lokal Menjadi Institusi Beraset Rp70 Triliun
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Transformasi dan Pengembangan Usaha PT Bank Mandiri Taspen, Noer Fajrieansyah, menjelaskan perjalanan transformasi perusahaan sejak berdiri pada 2015.
Saat awal berdiri sebagai bank lokal di Bali, total aset perusahaan masih berada di kisaran Rp1,5 triliun. Kini, aset Bank Mandiri Taspen telah berkembang menjadi sekitar Rp70 triliun.
Perusahaan juga terus memperluas perannya sebagai lembaga yang fokus mendampingi masyarakat memasuki masa pensiun.
Dengan komposisi kepemilikan saham sekitar 50 persen oleh Bank Mandiri dan sisanya dimiliki pemegang saham lainnya, perusahaan menilai perubahan struktur penduduk menjadi momentum untuk menghadirkan layanan yang lebih relevan bagi masyarakat senior.
Transformasi tersebut diwujudkan melalui semangat "Mantap Aktif, Mantap Sehat, Mantap Sejahtera". Filosofi tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam mendukung para pensiunan agar tetap produktif, memiliki kondisi kesehatan yang baik, serta menikmati kualitas hidup yang lebih sejahtera.
Di tengah perubahan struktur demografi Indonesia, pendekatan seperti ini dinilai menjadi bagian dari penguatan ekosistem silver economy.
Jika didukung kebijakan pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat, populasi lansia tidak hanya menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan, tetapi juga dapat berkontribusi sebagai kekuatan ekonomi yang tetap produktif di masa depan. (udn)
Load more