Rupiah Anjlok ke Rp18.075 per Dolar AS Imbas Defisit APBN dan Berakhirnya Gencatan Senjata Iran-AS
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah anjlok ke Rp18.075 per dolar Amerika Serikat (AS) imbas defisit APBN dan berakhirnya gencatan senjata Iran-AS.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp18.005 per dolar AS pada Rabu, 8 Juli 2026.
Posisi rupiah melemah 17 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.988 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 Juli 2026.
Perdagangan di pasar spot pada Rabu, 8 Juli 2026 hingga pukul 09.12 WIB rupiah ditransaksikan di Rp18.075 per dolar AS.
Posisi rupiah melemah 61 poin atau 0,34 persen dari posisi sebelumnya di level Rp18.014 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan APBN hingga Semester I-2026 defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap PDB.
Realisasi pendapatan negara Rp1.459,4 triliun. Sementara itu, belanja negara sebesar Rp1.656 triliun.
"Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Dia memaparkan, secara tahunan, defisit APBN Semester I-2026 justru lebih rendah 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84 persen terhadap PDB.
Akan tetapi, sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN terutama apabila dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun.
Dalam struktur APBN saat ini, sambungnya, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Pada akhirnya kondisi ini mempersempit ruang fiskal pemerintah.
"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.010-Rp18.060," terangnya.
Untuk diketahui, Komando Pusat AS memulai serangkaian serangan terhadap Iran. Tujuannya, yakni memberikan apa yang digambarkan sebagai "biaya berat" atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.
Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah.
Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional.
Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz. Hal ini meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu lebih banyak ketidakpastian tentang status jalur air penting tersebut.
Akan tetapi, babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)
Load more