Dubes RI Djauhari: Indonesia Siap Jadi Mitra Inovasi China, Bukan Sekadar Konsumen Teknologi
- Abdul Gani Siregar-tvOne
Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah Indonesia mempertegas arah baru kerja sama strategis dengan China dengan menjadikan energi hijau (green energy) dan teknologi masa depan (future technology) sebagai dua pilar utama kemitraan ekonomi kedua negara.
Komitmen tersebut disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun dalam sambutannya pada Indonesia-China Partnership Forum: Advancing Green Energy and Future Technology di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
Djauhari mengatakan forum tersebut secara khusus mengangkat dua sektor yang akan menentukan masa depan hubungan ekonomi Indonesia dan China.
“Forum hari ini mengangkat dua sektor yang sangat penting bagi masa depan kerja sama Indonesia-Tiongkok: green energy dan teknologi masa depan,” kata Djauhari.
Pada sektor energi hijau, ia menegaskan Indonesia terus mempercepat agenda transisi energi melalui pengembangan berbagai sektor strategis.
Menurutnya, langkah tersebut membuka ruang kolaborasi yang semakin luas dengan China yang selama ini menjadi salah satu pemain utama dalam industri energi bersih dan manufaktur teknologi.
“Pertama, green energy. Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mendorong transisi energi. Kami terus memperluas energi terbarukan, mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, memperkuat industri baterai, mendorong efisiensi energi, dan membangun kawasan industri hijau,” ujarnya.
“Ini membuat peluang besar bagi kerja sama dengan mitra Tiongkok,” lanjutnya.
Selain energi hijau, Indonesia juga menempatkan penguasaan teknologi masa depan sebagai agenda strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Djauhari menilai perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan hingga otomasi industri akan menjadi penentu arah pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang.
“Kedua, future technology atau teknologi masa depan. Masa depan ekonomi akan ditentukan oleh teknologi seperti artificial intelligence, smart manufacturing, digital industry, green technology, automation, dan inovasi berbasis riset. Indonesia ingin menjadi bagian aktif dari perubahan ini,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Indonesia turut bergabung sebagai negara pendiri organisasi internasional di bidang kecerdasan buatan yang digagas Presiden China Xi Jinping.
“Karena itulah, Indonesia ikut mendukung dan menjadi founder dari Organisasi Artifisial Internasional yang digagas oleh Presiden Xi Jinping beberapa hari yang lalu,” ujar Djauhari.
Menurutnya, posisi Indonesia dalam perkembangan teknologi global tidak lagi sebatas menjadi konsumen teknologi.
Pemerintah ingin membangun kemitraan yang menghasilkan inovasi, transfer teknologi, serta pertumbuhan industri bernilai tambah.
“Indonesia ingin menjadi bagian aktif dari perubahan ini, bukan hanya sebagai pasar teknologi, tetapi sebagai mitra produktif, mitra inovasi, dan mitra pertumbuhan. Di sinilah kerja sama Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar,” tegasnya.
Djauhari menilai sinergi kedua negara memiliki fondasi yang kuat karena masing-masing memiliki keunggulan yang saling melengkapi.
China unggul dalam teknologi, manufaktur, permodalan, dan rantai pasok global, sementara Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar, sumber daya strategis, bonus demografi, serta komitmen kuat terhadap transformasi industri.
“Tiongkok memiliki kekuatan teknologi, manufaktur, modal, dan rantai pasok. Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya strategis, tenaga kerja muda, dan komitmen kuat untuk transformasi industri. Kekuatan ini tentunya saling melengkapi,” pungkasnya. (agr/nsi)
Load more