BI Ubah Arah Pembiayaan, Tak Lagi Sekadar Kejar Kredit demi Genjot Pertumbuhan Ekonomi
- dok. antara
Jakarta, tvOnenews.com - Bank Indonesia (BI) mendorong perubahan besar dalam arah pembiayaan nasional, di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang terus menguat.
BI menegaskan fokus kebijakan tidak lagi hanya mengejar besarnya penyaluran kredit, melainkan memastikan pembiayaan benar-benar produktif, berkualitas, dan mampu menggerakkan sektor riil hingga pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, pembiayaan memiliki peran strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional karena mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, sekaligus mendongkrak daya saing dunia usaha.
BI mendorong perubahan dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas, dari pembiayaan individual menuju pembiayaan berbasis ekosistem, serta dari berbagai program yang berjalan sendiri-sendiri menuju orkestrasi nasional melalui sinergi antarpemangku kepentingan.
“Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah,” ujar Destry, dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2026).
Untuk mendukung transformasi tersebut, BI memperkuat bauran kebijakan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) guna mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
Dari sisi sistem pembayaran, BI juga terus memperluas digitalisasi melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP agar semakin banyak pelaku usaha terhubung ke ekosistem keuangan digital.
Di sisi pemerintah, Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Loto Srinaita Ginting menegaskan UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Pemerintah, kata dia, terus memperluas akses pembiayaan melalui penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelibatan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pembentukan holding UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha.
Optimisme BI didukung oleh kinerja intermediasi perbankan yang terus membaik. Kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan 11,51 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 24,90 persen (yoy), menandakan semakin kuatnya dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 8-12 persen, didukung besarnya fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.490 triliun, atau 21,52 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Load more