BI Rate Tetap 5,75 Persen, BI Pilih Jaga Rupiah Sambil Dorong Kredit
- Antara Foto
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Juni 2026 tercatat tinggi sebesar 23,7 persen.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara agregat tetap rendah. NPL tercatat sebesar 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto pada Juni 2026.
Dari sisi likuiditas, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat stabil sebesar 23,1 persen pada Juli 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan perbankan tetap memiliki ketahanan yang kuat di tengah kebijakan BI yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan kredit.
Pembayaran Digital Makin Kencang
Selain mendorong kredit, kebijakan BI juga diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi melalui sistem pembayaran digital.
Pada Juli 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,5 miliar transaksi atau tumbuh 28,69 persen secara yoy. Pertumbuhan tersebut didukung oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital.
Volume transaksi melalui internet tumbuh 9,39 persen yoy, sedangkan transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 24,25 persen yoy.
Pertumbuhan paling tinggi terlihat pada transaksi QRIS yang mencapai 82,42 persen yoy. Perkembangan tersebut didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant QRIS.
BI-FAST Tembus 546 Juta Transaksi
Dari sisi infrastruktur pembayaran ritel, volume transaksi melalui BI-FAST mencapai 546 juta transaksi pada Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 31,62 persen secara yoy dengan nilai transaksi mencapai Rp1.355 triliun.
Sementara itu, volume transaksi bernilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi atau tumbuh 3,12 persen yoy.
Nominal transaksi melalui BI-RTGS juga tumbuh 1,54 persen yoy hingga mencapai Rp20.097 triliun.
Pertumbuhan transaksi tersebut menjadi bagian dari perkembangan sistem pembayaran yang terus diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi sekaligus memperkuat struktur industri pembayaran.
Strategi BI untuk Jaga Rupiah
BI juga akan memperkuat efektivitas kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Salah satu strategi yang akan dilakukan adalah mengoptimalkan intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Load more