Kurangi Ketergantungan Utang, Indonesia Dinilai Perlu Ubah Struktur Neraca Pembayaran Jadi Investment-Driven
- Dok. Pelindo
Jakarta, tvOnenews.com - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai keinginan mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman dan lebih mengutamakan investasi merupakan arah yang tepat.Â
Namun, menurutnya transformasi tersebut membutuhkan perubahan terhadap struktur pembiayaan dan neraca pembayaran Indonesia.
Menurut Fakhrul, investasi langsung memiliki karakter berbeda dengan utang. Utang menciptakan kewajiban pembayaran kembali dan bunga, sementara investasi produktif—terutama yang berbasis ekspor—dapat menciptakan kapasitas produksi, lapangan kerja, teknologi, ekspor, dan sumber penerimaan valuta asing baru.
“Saya sependapat dengan arah yang disampaikan Presiden. Kalau Indonesia mempunyai pilihan antara terus menambah ketergantungan terhadap utang atau memperbesar investasi produktif, kita harus semakin menggeser struktur pembiayaan menuju investasi. Apalagi kalau pembiayaan neraca pembayaran masih didominasi SBN dan SRBI, beban biaya bunga akan terus meningkat," kata Fakhrul, Selasa (1/9/2026).
Fakhrul menekankan bahwa persoalan utang tidak cukup dilihat dari APBN. Dari perspektif balance of payments, Indonesia masih bergantung pada foreign portfolio flows ke instrumen berbasis utang, terutama SBN dan SRBI, untuk membantu memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.
Karena itu, strategi mengurangi ketergantungan terhadap utang harus disertai penciptaan sumber capital inflow alternatif.
“Kita tidak bisa hanya mengurangi debt inflows. Kita harus mempunyai penggantinya. Kalau ketergantungan kepada debt-based capital flows ingin turun, investment-based capital flows harus naik," terangnya.
Terkait hal tersebut, perbaikan persepsi terhadap pasar modal Indonesia, termasuk persoalan yang menjadi perhatian MSCI, perlu segera dilakukan karena dapat memengaruhi kemampuan Indonesia menarik arus investasi global.
Net FDI Indonesia Masih Terlalu Rendah
Menurut Fakhrul, net direct investment Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hanya berada di kisaran sekitar 0,8–1,7% terhadap PDB, belum cukup besar untuk secara struktural mengubah komposisi pembiayaan eksternal.
“Gross investment Indonesia memang besar. Tetapi dalam balance of payments kita harus melihat net direct investment, karena perusahaan Indonesia juga semakin aktif berinvestasi ke luar negeri. Net FDI ini harus kita naikkan secara struktural," ungkapnya.
Indonesia membutuhkan investasi yang menghasilkan ekspor, substitusi impor, dan foreign-currency earning capacity.
“Tujuan kita bukan sekadar mendapatkan dolar masuk tahun ini. Kita harus menarik modal yang menciptakan kemampuan menghasilkan dolar pada tahun-tahun berikutnya," kata Fakhrul.
Fakhrul menilai investasi tidak dapat sepenuhnya menggantikan utang. SBN tetap diperlukan untuk pembiayaan APBN, sebagai risk-free benchmark, instrumen likuiditas perbankan, dan fondasi pasar keuangan domestik.
“Tujuannya bukan menjadi negara tanpa utang. Yang perlu kita kurangi adalah ketergantungan terhadap utang sebagai sumber marginal pembiayaan pertumbuhan dan stabilitas eksternal," ujar Fakhrul.
Perubahan yang dibutuhkan adalah dari struktur yang bergantung pada current-account deficit → portfolio debt inflow → SBN/SRBI → external stability, menuju FDI → productive capacity → exports/import substitution → foreign-currency earnings → external stability.
“Ini lebih besar daripada debt management. Ini adalah perubahan postur neraca pembayaran Indonesia," tutur dia.
Transisi Harus Bertahap
Menurut Fakhrul, sequencing menjadi sangat penting. Mengurangi ketergantungan pada instrumen utang sebelum sumber capital inflow lainnya cukup kuat justru dapat menimbulkan tekanan terhadap rupiah dan neraca pembayaran.
“Hari ini SBN dan SRBI masih membantu menarik foreign capital. Kalau ketergantungan terhadap instrumen tersebut ingin dikurangi, FDI, equity flows dan private-sector capital inflows harus meningkat terlebih dahulu. Kita membutuhkan substitution of financing, bukan sekadar subtraction of debt," kata dia.
Menurut Fakhrul, untuk meningkatkan investasi pemerintah tidak cukup hanya menawarkan insentif. Investor membandingkan expected return dengan risk.
Indonesia mempunyai pasar domestik besar, sumber daya alam, tenaga kerja, dan peluang pada hilirisasi, energi, manufaktur, data center serta ekonomi digital. Namun, seluruh keunggulan tersebut harus diterjemahkan menjadi risk-adjusted return yang kompetitif.
“Kalau Presiden ingin investasi menggantikan sebagian peran utang, kebijakan berikutnya harus sangat pro-business. Bukan hanya tax holiday, tetapi secara sistematis menurunkan risiko melakukan usaha di Indonesia," terang Fakhrul.
Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, perlindungan kontrak dan hak kepemilikan, penyelesaian sengketa, kepastian perpajakan, repatriasi keuntungan, infrastruktur serta birokrasi yang predictable menjadi semakin penting.
“Investor dapat menghitung pajak, upah, dan harga listrik. Yang sulit dihitung adalah ketidakpastian. Kebijakan pro-business yang paling murah bagi pemerintah sering kali justru kepastian," sambungnya.
FDI Harus Menciptakan Kapasitas Baru
Fakhrul juga mengingatkan bahwa kualitas investasi sama pentingnya dengan jumlah investasi. Indonesia membutuhkan FDI yang menciptakan additional productive capacity, memperdalam supply chain, membawa teknologi, meningkatkan ekspor atau mengurangi impor.
“FDI terbaik bukan hanya dolar yang masuk hari ini. FDI terbaik adalah dolar yang masuk hari ini untuk menciptakan kemampuan menghasilkan dolar besok," tutur dia.
Menurut Fakhrul, arahan Presiden dapat menjadi momentum untuk mengintegrasikan strategi investasi dengan pengelolaan neraca pembayaran.
“Arahan Presiden ini tepat dan menyasar persoalan neraca pembayaran Indonesia yang masih terlalu bergantung pada instrumen utang. Indonesia tidak perlu berhenti berutang. Yang kita perlukan adalah membuat investasi tumbuh jauh lebih cepat daripada ketergantungan terhadap utang," ujar Fakhrul.
“Selama ini kita banyak membiayai balance of payments dengan menjual surat utang kepada dunia. Ke depan, kita harus semakin mampu membiayainya dengan mengajak dunia membangun kapasitas produksi bersama kita. Utang membantu membiayai kebutuhan hari ini, sementara investasi yang tepat memperbesar kemampuan ekonomi membiayai dirinya sendiri di masa depan," sambungnya.
Load more