News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Purbaya Curhat Hal Paling Pusing Jadi Menkeu, Dari Demo Besar hingga Gempuran MSCI

Setahun menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dirinya langsung menghadapi situasi sulit ketika pertama kali menjabat sebagai Menteri Keuangan (Menkeu).
Selasa, 8 September 2026 - 17:00 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap, berbagai tekanan yang dihadapinya selama setahun memimpin Kementerian Keuangan.

Menurut Purbaya, tantangan paling membuat pusing bukan hanya persoalan mengelola fiskal, tetapi bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat dan investor ketika ekonomi Indonesia diguncang berbagai tekanan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Purbaya mengatakan dirinya langsung menghadapi situasi sulit ketika pertama kali menjabat sebagai Menkeu. Saat itu, Indonesia tengah menghadapi demonstrasi besar sehingga pemerintah harus bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan publik.

“Dukanya apa ya? Jadi kan saya sedang cerita diketawain orang, tapi ngeluh katanya. Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya,” kata Purbaya kepada media, di Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).

Dalam menghadapi situasi tersebut, Purbaya mengaku menggunakan teori makroekonomi yang pernah dipelajarinya, yakni self-fulfilling prophecy. Teori tersebut, menurut dia, digunakan untuk membentuk ekspektasi masyarakat dan pelaku ekonomi agar kembali melihat prospek perekonomian secara positif.

“Caranya gimana? Saya terapkan apa pengetahuan yang disebut. Saya pernah belajar makroekonomik of self-fulfilling prophecy. Jadi kita membentuk ekspektasi. Dan ekspektasi itu nanti hanya ekonomi yang berjalan ke arah sana, cenderung ke arah sana. (naik),” ungkapnya.

Namun, Purbaya menyadari bahwa mengubah kondisi ekonomi secara langsung membutuhkan waktu. Karena itu, ia memilih membangun optimisme melalui pernyataan yang kemudian justru dianggap sebagian pihak sebagai sikap terlalu percaya diri.

“Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa ya omong gede. Itu yang dibilang orang sombong, itu Purbaya sombong banget,” tutur dia.

Purbaya menegaskan pernyataan-pernyataan optimistis tersebut bukan sekadar untuk membangun citra, melainkan bagian dari strategi kebijakan untuk membentuk ekspektasi ekonomi.

“Itu bukan sombong tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif. Jadi kalau kata pengetahuan itu, kata self-fulfilling prophecy itu, kalau semua berpikir ekonomi akan bagus, nanti kenyataannya akan cenderung bagus,” jelasnya.

Purbaya menjelaskan ekspektasi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan para pelaku ekonomi. Ketika investor percaya ekonomi akan membaik, investasi akan bergerak. Masyarakat juga terdorong untuk berbelanja, sementara perusahaan lebih berani melakukan ekspansi.

“Karena apa? Investor gak takut investasi, masyarakat gak takut belanja, perusahaan pun gak takut ekspansi. Karena mereka pikir ekonomi akan baik ke depan. Tapi kalau semua berpikir ekonomi akan resesi, ekonomi bisa betul-betul resesi,” ungkap Purbaya.

Sebaliknya, ekspektasi negatif dapat menciptakan lingkaran yang memperburuk kondisi ekonomi. Investor menahan ekspansi, masyarakat mengurangi konsumsi, sedangkan pengusaha memilih menunggu karena khawatir terhadap kondisi ke depan.

“Kenapa? Karena investor takut ekspansi, masyarakat takut belanja, kadang untuk hemat, kadang untuk jaga-jaga. Kalau keadaan lagi susah, pengusaha pun gak akan ekspansi. Akibatnya ekonomi melambat terus bisa ke bawah(?),” tegasnya.

Atas dasar itu, Purbaya mengatakan pemerintah berupaya mengimbangi pembentukan ekspektasi positif dengan kebijakan konkret agar optimisme tersebut tidak berhenti sebagai narasi.

“Itu yang saya coba balik dengan tadi di depan, agak sombong kata orang-orang tertentu, tapi bukan, kita ada satu strategi untuk membentuk ekspektasi ke depan, kemudian kita taruh kebijakan yang bagus-bagus, supaya ekonominya bisa bertumbuh,” jelas dia.

Menurut Purbaya, strategi tersebut kemudian berjalan di tengah berbagai gejolak yang datang silih berganti. Ia menilai ekonomi Indonesia memang relatif stabil selama setahun terakhir, meski pemerintah masih menghadapi protes dan tekanan dari berbagai sisi.

“Kita lihat, boleh dibilang, selama setahun terakhir kan ekonominya udah lumayan stabil, walaupun ada protes di sana-sini ya, memang kita kan baru keluar dari perlambatan yang disignifikan sampai triwulan III tahun lalu,” ungkapnya.

Purbaya mengaku sempat mengira persoalan mulai mereda setelah pemerintah melakukan langkah stabilisasi. Namun, tekanan kembali muncul dari pasar keuangan global.

“Habis itu, awal September kan saya pindahin uang, udah stabil, saya pikir sudah selesai? Belum. Tau-tau keluar MSCI di gempur kita, ya itu pasarnya,” cerita dia.

Setelah gejolak tersebut mereda, tantangan berikutnya datang melalui lembaga pemeringkat internasional. Purbaya menyebut pasar kembali bergejolak setelah muncul kabar mengenai Fitch dan Moody’s.

“Habis itu stabilisasi selesai, keluar Fitch, Moody’s, Goncang lagi. Habis itu, kita betulin terus kan, ada ancaman S&P, walaupun S&P nggak ngasih sinyal negatif, pertamanya ya, tapi orang di pasar gembar-gembor, kita akan downgrade, bahkan stock marketnya menuju frontier. Padahal S&P nggak pernah ngomong gitu yang saya tahu,” curhatnya.

Purbaya kemudian menyoroti penerbitan Panda Bond di China sebagai salah satu perkembangan positif yang berhasil dicapai pemerintah. Obligasi tersebut mendapat respons pasar yang dinilai cukup baik dengan peringkat AAA/stable.

“Nah, begitu S&P keluar, kita stabil, orang bilang, ah bohong pas itu. Padahal S&P yang ngomong. Jadi S&P lebih ngeliat fondasi ekonomi secara lebih fair,” tutur Purbaya.

“Habis itu ke Cina, kita keluarkan bond, Panda Bond, cukup laku. Ratingnya AAA/stable, orang nggak peduli saya juga. Kita terbitin bondnya, bunganya 2.19 sama 1.9. Cukup rendah untuk keseluruhan, itu bagus,” tandasnya.

Meski berbagai indikator tersebut menunjukkan adanya respons positif dari pasar, Purbaya mengakui pekerjaan rumah pemerintah belum selesai. Ia masih menghadapi keraguan sebagian publik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan yang dijalankan pemerintah.

“Tapi gitu, masih banyak di publik yang bilang itu tidak real,” tandas dia. (agr/rpi)

 
 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Kebakaran Lapangan Bola di Pancoran, Damkar Ungkap Penyebab Diduga Akibat Puntung Rokok

Kebakaran Lapangan Bola di Pancoran, Damkar Ungkap Penyebab Diduga Akibat Puntung Rokok

Kebakaran melanda lapangan sepak bola Aldiron milik TNI AU di Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Kota Jakarta Selatan, pada Selasa (8/9).
Sidak Sekolah Maung, Dedi Mulyadi Uji Kemampuan Siswa Lewat Tes Matematika Berhadiah Rp1,5 Juta

Sidak Sekolah Maung, Dedi Mulyadi Uji Kemampuan Siswa Lewat Tes Matematika Berhadiah Rp1,5 Juta

Sidak Sekolah Maung, Dedi Mulyadi uji kemampuan siswa lewat Tes Matematika berhadiah Rp1,5 juta sekaligus soroti kedisiplinan dan kebersihan sekolah.
Mengenal Lebih Jauh Gangguan Bipolar, Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai hingga Tips bagi Penyintas

Mengenal Lebih Jauh Gangguan Bipolar, Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai hingga Tips bagi Penyintas

Gangguan bipolar merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang masih sering keliru dipahami masyarakat. Kenali gejala, penyebab dan tips bagi penyintas.
5 Wartawan Hilang Kontak di Gunung Anak Krakatau! Basarnas Banten Kerahkan RIB-02, Lokasi Belum Ditemukan

5 Wartawan Hilang Kontak di Gunung Anak Krakatau! Basarnas Banten Kerahkan RIB-02, Lokasi Belum Ditemukan

Basarnas Banten angkat bicara terkait dengan isu hilang kontak lima (5) wartawan saat menuju ke Gunung Anak Krakatau. Kasi Ops Basarnas Banten, Rizky Dwianto
Update Kondisi Charles Leclerc Pasca Kecelakaan di F1 GP Italia 2026, Pembalap Ferrari Itu Bilang Begini

Update Kondisi Charles Leclerc Pasca Kecelakaan di F1 GP Italia 2026, Pembalap Ferrari Itu Bilang Begini

Charles Leclerc memberikan kabar terbaru mengenai kondisinya setelah mengalami kecelakaan pada F1 GP Italia 2026 di Sirkuit Monza.
4 Organisasi yang Menerima Donasi Fajar Sahrudin Sebelum Meninggal, Komunitas Kesehatan Mental hingga Peduli Hewan

4 Organisasi yang Menerima Donasi Fajar Sahrudin Sebelum Meninggal, Komunitas Kesehatan Mental hingga Peduli Hewan

Berikut 4 organisasi yang menerima donasi Fajar Sahrudin sebelum meninggal dunia, komunitas kesehatan mental hingga peduli hewan.

Trending

Kronologi Lengkap Kasus Bunuh Diri di GBK yang Viral di Medsos Bernama Fajar Sahrudin

Kronologi Lengkap Kasus Bunuh Diri di GBK yang Viral di Medsos Bernama Fajar Sahrudin

Viral satu kasus bunuh diri di media sosial (Medsos) yang masih didalami oleh Kepolisian. Korban FS ditemukan tak bernyawa di kawasan GBK, Jakarta.
Bukan Hoaks, Kapolsek Metro Tanah Abang Konfirmasi soal Dugaan Bunuh Diri Fajar Sahrudin di GBK

Bukan Hoaks, Kapolsek Metro Tanah Abang Konfirmasi soal Dugaan Bunuh Diri Fajar Sahrudin di GBK

Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengonfirmasi pihaknya memang telah mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP terhadap kematian Fajar Sahrudin.
Barang Bukti Ini yang Ditemukan Polisi saat Menemukan Fajar Sahrudin Meninggal Dunia di GBK

Barang Bukti Ini yang Ditemukan Polisi saat Menemukan Fajar Sahrudin Meninggal Dunia di GBK

Berdasarkan hasil oleh TKP Polsek Tanah Abang bersama Polres Jakarta Pusat kalau penemuan jasad dari Fajar Sahrudin ditemukan di GBK. Kini cuitannya jadi viral
Isi Surat Terakhir Fajar Sahrudin untuk Sang Kakak sebelum Jasadnya Ditemukan di GBK: Jangan Utak-atik Rekeningku

Isi Surat Terakhir Fajar Sahrudin untuk Sang Kakak sebelum Jasadnya Ditemukan di GBK: Jangan Utak-atik Rekeningku

Fajar Sahrudin mendokumentasikan aktivitasnya membuat kado perpisahan. Ia juga menulis tangan beberapa surat, dimana salah satunya ditujukkan untuk sang kakak.
Anak Eks Komandan Banser Jakarta Diduga Dikeroyok di Kalibata, Kasus Naik ke Tahap Penyidikan

Anak Eks Komandan Banser Jakarta Diduga Dikeroyok di Kalibata, Kasus Naik ke Tahap Penyidikan

Seorang mahasiswa berinisial AHP (20) yang merupakan anak dari mantan Komandan Banser DKI Jakarta periode 2016–2020, diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Rabu (26/8/2026) dini hari.
Alasan Para Pemain Timnas Indonesia Geruduk Kreator Konten Australia: Welber Jardim hingga Justin Hubner Susul Mathew Baker

Alasan Para Pemain Timnas Indonesia Geruduk Kreator Konten Australia: Welber Jardim hingga Justin Hubner Susul Mathew Baker

Para pemain Timnas Indonesia terpantau meramaikan kolom komentar salah satu podcaster Australia, Daniel Olaniran. Hal itu viral lantaran dirinya menyebut jika skuad Garuda tak mengerti sepak bola. 
Deretan Kasus Bunuh Diri di GBK yang Viral di Media Sosial, Nomor 3 Masih Jadi Misteri

Deretan Kasus Bunuh Diri di GBK yang Viral di Media Sosial, Nomor 3 Masih Jadi Misteri

Kasus bunuh diri di Kawasan GBK lagi menjadi sorotan publik di media sosial. Sebab ada satu kasus viral mencuat dan mengingatkan satu nama yang dulu terjadi.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT