Waspadai Super Flu Virus, Ini Perbedaan Gejalanya dengan Flu Biasa Menurut Prof. Erlina Burhan
- Freepik/benzoix
tvOnenews.com - Kasus super flu virus atau influenza H3N2 subclade K kini tengah menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat adanya peningkatan kasus yang menyerupai flu musiman di beberapa wilayah.
Meski belum menunjukkan tingkat keparahan ekstrem, para ahli meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyebarannya, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, menjelaskan bahwa gejala yang ditimbulkan super flu secara umum mirip dengan flu biasa.
“Gejala umumnya seperti flu musiman yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Namun, berdasarkan penilaian WHO dan situasi epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan clade atau subclade lainnya,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan Laboratorium Biokes, hingga akhir Desember tercatat 62 kasus super flu di delapan provinsi di Indonesia.
Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Menariknya, mayoritas penderita adalah perempuan (64%), dengan kelompok usia terbanyak anak-anak 1-10 tahun (35%).
Ahli paru dari RS Persahabatan, Prof. Erlina Burhan, memberikan penjelasan lebih lanjut tentang perbedaan antara flu biasa dan super flu.
Dalam wawancaranya dengan tvOnenews, ia menjelaskan bahwa kedua penyakit ini sebenarnya berasal dari virus influenza tipe A, namun dengan varian yang berbeda.
“Untuk membedakannya perlu pemeriksaan laboratorium. Tapi dari segi gejala sih mirip-mirip saja karena keduanya adalah influenza A. Flu musiman biasanya disebabkan oleh H1N1, sedangkan super flu yang sekarang muncul disebabkan oleh H3N2, tepatnya varian subclade K,” ujar Prof. Erlina.
Meski H3N2 bukan virus baru dan telah dikenal sejak lama, varian subclade K ini disebut “super flu” karena penyebarannya cepat dan gejalanya cenderung lebih berat dibandingkan flu biasa.
“H3N2 subclade K ini banyak ditemukan di musim dingin dan telah dilaporkan menyebabkan peningkatan kasus signifikan di Amerika Serikat. Banyak pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bahkan beberapa di antaranya meninggal dunia,” tambahnya.
Menurut Prof. Erlina, perbedaan utama antara flu biasa dan super flu terletak pada intensitas gejalanya.
"Namanya super flu, ya memang gejalanya dirasakan lebih berat oleh pasien. Misalnya demamnya lebih tinggi, tenggorokan lebih sakit, pilek disertai nyeri kepala hebat, bahkan beberapa pasien juga mengalami mual,” jelasnya.
Mereka yang terinfeksi virus H3N2 subclade K umumnya mengalami gejala yang berlangsung lebih lama dan menyebabkan kelelahan ekstrem.
Gejala flu biasa biasanya membaik dalam tiga hingga lima hari, sementara super flu dapat bertahan hingga lebih dari seminggu.
Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan pasien dengan sistem imun lemah, seperti anak-anak, lansia, atau penderita penyakit kronis.
Prof. Erlina menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat, terutama bagi kelompok rentan.
Perlu diingat, agar masyarakat tidak menganggap remeh flu yang berlangsung lebih dari lima hari atau disertai gejala berat seperti sesak napas dan demam tinggi yang tidak kunjung turun.
Selain menjaga kebersihan diri dan lingkungan, vaksinasi influenza tetap menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan risiko penularan virus ini.
Prof. Erlina Burhan juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi, istirahat cukup, serta menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit flu.
Dengan langkah-langkah ini, penyebaran super flu diharapkan dapat ditekan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas. (adk)
Load more