8 Jenis Narkoba yang Paling Sering Disalahgunakan, Kenali Efeknya Sebelum Terlambat!
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Penyalahgunaan narkoba masih menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Tidak hanya merenggut masa depan jutaan anak muda, penggunaan narkotika juga meningkatkan risiko gangguan mental, penyakit kronis, hingga kematian akibat overdosis.
Meski kampanye antinarkoba terus digencarkan, angka penyalahgunaan zat adiktif masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan World Drug Report dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), lebih dari 290 juta orang di dunia menggunakan narkoba dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa gangguan akibat penggunaan narkoba (drug use disorders) menjadi salah satu persoalan kesehatan global karena berkaitan erat dengan depresi, psikosis, penyakit menular, hingga meningkatnya angka kematian dini.
Indonesia juga menghadapi tantangan serupa. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat jutaan masyarakat Indonesia pernah terpapar narkoba, dengan kelompok usia produktif menjadi yang paling rentan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai jenis-jenis narkoba beserta dampaknya masih sangat diperlukan agar masyarakat tidak mudah terjerumus.
Mengapa Narkoba Sangat Berbahaya?
Narkoba atau narkotika, psikotropika, dan zat adiktif bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Zat-zat tersebut dapat merangsang, menekan, atau mengacaukan kerja otak sehingga mengubah cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga berperilaku.
Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), narkoba memicu lonjakan dopamin dalam jumlah sangat tinggi.
Dopamin merupakan zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Ketika otak terus-menerus dibanjiri dopamin akibat narkoba, tubuh berhenti memproduksi dopamin secara normal sehingga pengguna membutuhkan dosis yang semakin besar untuk merasakan efek yang sama. Inilah yang menjadi awal terjadinya kecanduan.
Selain merusak otak, penyalahgunaan narkoba juga dapat menyebabkan kerusakan jantung, paru-paru, hati, ginjal, hingga meningkatkan risiko HIV dan hepatitis akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian.
8 Jenis Narkoba yang Paling Sering Disalahgunakan
1. Kokain
Kokain merupakan stimulan kuat yang berasal dari ekstrak daun tanaman koka. Meski dalam kondisi tertentu digunakan untuk keperluan medis, penyalahgunaan kokain dapat memicu euforia sesaat yang diikuti keinginan kuat untuk menggunakannya kembali.
Efek sampingnya meliputi peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, kecemasan, depresi, aritmia, stroke, serangan jantung, hingga overdosis yang dapat berujung kematian.
2. Ganja
Ganja berasal dari tanaman Cannabis sativa yang mengandung senyawa psikoaktif THC. Zat ini memengaruhi area otak yang mengatur ingatan, konsentrasi, koordinasi tubuh, dan pengambilan keputusan.
Dalam jangka pendek, pengguna dapat merasakan sensasi rileks atau euforia. Namun penggunaan berulang meningkatkan risiko gangguan daya ingat, sulit berkonsentrasi, depresi, paranoia, gangguan pernapasan, hingga meningkatnya risiko psikosis, terutama pada remaja yang otaknya masih berkembang.
Di beberapa negara seperti Kanada dan Jerman, ganja digunakan secara terbatas untuk terapi medis dengan pengawasan ketat. Namun di Indonesia, ganja masih termasuk narkotika yang dilarang karena risiko penyalahgunaannya dinilai lebih besar daripada manfaatnya.
3. Ekstasi (MDMA)
Ekstasi merupakan obat sintetis yang memiliki efek stimulan sekaligus halusinogen. Obat ini sering disalahgunakan di tempat hiburan malam karena memberikan sensasi berenergi, lebih percaya diri, dan merasa bahagia.
Sayangnya, setelah efek tersebut hilang, pengguna sering mengalami depresi, kecemasan, sulit tidur, dan kelelahan berat.
Penggunaan dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan hipertermia (suhu tubuh sangat tinggi), gangguan irama jantung, kerusakan ginjal, hingga gagal organ yang mengancam nyawa.
4. Heroin (Putaw)
Heroin termasuk golongan opioid yang berasal dari tanaman opium poppy. Zat ini bekerja sebagai depresan yang memperlambat aktivitas otak dan sistem pernapasan.
Pengguna biasanya merasakan ketenangan dan rasa nyaman sesaat. Namun setelah itu muncul kantuk berlebihan, kesulitan berpikir, mual, mulut kering, pupil mengecil, hingga gangguan pernapasan.
WHO menyebut opioid menjadi penyebab sebagian besar kematian akibat overdosis narkoba di dunia karena mampu menghentikan fungsi pernapasan dalam waktu singkat.
Dampak Narkoba Tidak Hanya Fisik, tetapi Juga Mental
Selain merusak organ tubuh, narkoba juga menyebabkan gangguan kesehatan mental yang sering kali berlangsung lama.
Pengguna berisiko mengalami depresi, gangguan kecemasan, perubahan kepribadian, psikosis, halusinasi, hingga perilaku agresif.
Penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet Psychiatry juga menunjukkan bahwa penggunaan ganja berkadar THC tinggi secara terus-menerus meningkatkan risiko gangguan psikotik pada kelompok usia muda.
Tidak sedikit pula pengguna yang kehilangan kemampuan mengendalikan emosi, mengalami gangguan daya ingat, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan pekerjaan dan hubungan sosial akibat kecanduan.
Jika diinginkan, saya juga bisa membuat artikel ini lebih ramah SEO dengan panjang sekitar 1.500 kata yang berpotensi bersaing di halaman pertama Google. (udn)
Load more