News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Gluten-Free Makin Populer, Apakah Orang Indonesia Perlu Menghindarinya?

Di media sosial, gluten juga kerap dituding sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kenaikan berat badan.
Selasa, 21 Juli 2026 - 11:50 WIB
Ilustrasi Tepung Gandum
Sumber :
  • Pixabay/VugarAhmadov

Jakarta, tvOnenews.com – Viral dan popularnya produk dan diet gluten-free semakin mudah ditemukan di Indonesia. Di media sosial, gluten juga kerap dituding sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kenaikan berat badan. Namun, benarkah gluten memang berbahaya bagi masyarakat Indonesia?

Jawaban ilmiahnya tidak sesederhana itu. Bagi sebagian besar orang, gluten bukanlah zat yang berbahaya. Namun, pada kelompok tertentu, protein yang terdapat dalam gandum, jelai (barley), dan gandum hitam (rye) ini memang dapat memicu gangguan kesehatan yang serius.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gluten merupakan kelompok protein yang memberikan tekstur kenyal pada roti, mi, pasta, dan berbagai makanan berbahan gandum. Protein ini telah menjadi bagian dari pola makan manusia selama ribuan tahun.

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa gluten tidak berbahaya bagi orang yang tidak memiliki gangguan terkait gluten. 

Menurut Kementerian Kesehatan, diet bebas gluten hanya direkomendasikan bagi penderita penyakit celiac, alergi gandum, sensitivitas gluten non-celiac (non-celiac gluten sensitivity/NCGS), maupun gluten ataxia.

Hingga saat ini juga belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menghindari gluten membuat orang sehat menjadi lebih sehat atau lebih mudah menurunkan berat badan.

Siapa yang memang harus menghindari gluten?
Secara medis, terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang membatasi atau menghindari gluten.

Pertama, penyakit celiac (celiac disease). Menurut Mayo Clinic dan National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penyakit ini merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem imun menyerang lapisan usus halus setelah seseorang mengonsumsi gluten.

Kerusakan tersebut dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan memicu diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kekurangan vitamin.

Kedua, alergi gandum. Berbeda dengan penyakit celiac, American College of Allergy, Asthma & Immunology (ACAAI) menjelaskan bahwa alergi gandum merupakan reaksi sistem kekebalan terhadap protein dalam gandum yang dapat menyebabkan gatal, ruam, muntah, sesak napas, hingga anafilaksis pada kasus yang berat.

Ketiga, sensitivitas gluten non-celiac (NCGS). Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, penderita NCGS dapat mengalami kembung, nyeri perut, atau diare setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten tanpa mengalami kerusakan usus seperti pada penyakit celiac. 

Namun, para peneliti masih memperdebatkan apakah gejala tersebut benar-benar dipicu gluten atau justru komponen lain dalam gandum, seperti fruktan.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia?
Indonesia secara historis merupakan negara dengan konsumsi beras yang jauh lebih tinggi dibandingkan gandum. 

Secara alami pun gandum tidak tumbuh, masyarakat zaman dahulu tidak mengenal tepung terigu dan lebih mengandalkan umbi-umbian serta biji-bijian lokal. 

Hingga kini, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gandum terbesar di dunia sebagai bahan baku produk berbahan gandum seperti mi instan, roti, biskuit, dan makanan cepat saji terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, hingga kini belum ada data nasional yang menggambarkan prevalensi penyakit celiac pada masyarakat Indonesia.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Acta Medica Indonesiana menemukan sekitar 0,61 persen pasien dengan diare kronis di Jakarta terdiagnosis menderita penyakit celiac. 

Namun, para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut hanya berasal dari kelompok pasien tertentu sehingga belum dapat mewakili populasi Indonesia secara keseluruhan.

Para peneliti dalam jurnal Opportunities and Challenges in the Management of Celiac Disease in Asia yang diterbitkan United European Gastroenterology Journal juga menilai meningkatnya konsumsi gandum di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kemungkinan akan membuat lebih banyak kasus penyakit celiac teridentifikasi pada masa mendatang seiring semakin baiknya fasilitas diagnosis.

Sementara itu, meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Gastroenterology and Hepatology memperkirakan prevalensi penyakit celiac yang telah dikonfirmasi melalui biopsi di Asia sekitar 0,5 persen.

Angka ini memang lebih rendah dibandingkan beberapa negara Eropa, tetapi menunjukkan bahwa penyakit tersebut bukan kondisi yang sangat langka di kawasan Asia.

Mengapa ada orang merasa lebih sehat setelah berhenti makan gluten?

Fenomena ini cukup sering ditemukan, tetapi penyebabnya belum tentu gluten. Menurut ulasan ilmiah dalam The Lancet, sebagian orang yang mengaku sensitif terhadap gluten kemungkinan sebenarnya bereaksi terhadap fruktan, yaitu jenis karbohidrat fermentabel (FODMAP) yang juga terkandung dalam gandum.

Hal ini membuat diagnosis sensitivitas gluten non-celiac menjadi lebih kompleks dibandingkan penyakit celiac.

Selain itu, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa orang yang menjalani diet bebas gluten umumnya juga mengurangi konsumsi makanan ultra-proses seperti roti, biskuit, kue, atau makanan cepat saji.

Perubahan pola makan inilah yang sering kali membuat kondisi tubuh terasa lebih baik, bukan semata-mata karena menghilangkan gluten.

Apakah diet bebas gluten lebih sehat?

Jawabannya belum tentu. Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa produk bebas gluten tidak otomatis lebih bergizi. Bahkan, sebagian produk gluten-free mengandung gula, lemak, atau kalori yang lebih tinggi untuk mempertahankan teksturnya.

Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health mengingatkan bahwa orang yang tidak memiliki penyakit celiac atau gangguan terkait gluten justru berisiko mengalami kekurangan serat, vitamin B, dan zat besi apabila menjalani diet bebas gluten tanpa perencanaan gizi yang baik.

Gluten bukanlah zat yang berbahaya bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Protein ini hanya perlu dihindari oleh kelompok tertentu, seperti penderita penyakit celiac, alergi gandum, atau sensitivitas gluten yang telah ditegakkan diagnosisnya oleh tenaga medis.

Di sisi lain, meningkatnya konsumsi gandum di Indonesia membuat para peneliti menilai perlunya penelitian yang lebih luas mengenai penyakit celiac dan gangguan terkait gluten pada populasi Indonesia. 

Hingga data tersebut tersedia, keputusan menjalani diet bebas gluten sebaiknya didasarkan pada diagnosis medis, bukan sekadar mengikuti tren di media sosial.

 
 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

3 Shio yang Mendadak Dapat Rezeki Nomplok pada 23 Juli 2026, Anjing di Luar Dugaan

3 Shio yang Mendadak Dapat Rezeki Nomplok pada 23 Juli 2026, Anjing di Luar Dugaan

3 shio yang mendadak dapat rezeki nomplok pada 23 Juli 2026 sudah terungkap! Anjing paling di luar dugaan, cek ramalan keuangan dan angka hoki 12 shio!
BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia

BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kompetensi pekebun swadaya secara nasional
Setelah Eropa, Sejumlah Kota di Jepang Alami Panas Ekstrem 'Kokushobi'

Setelah Eropa, Sejumlah Kota di Jepang Alami Panas Ekstrem 'Kokushobi'

Badan Meteorologi Jepang melaporkan wilayah Tajimi dan Gujo di Prefektur Gifu masing-masing mencatat suhu 40,3 derajat Celsius dan 40 derajat Celsius
Kepala BPOM: Produk Biofarmasi Harus Penuhi Standar Global Sebelum Beredar

Kepala BPOM: Produk Biofarmasi Harus Penuhi Standar Global Sebelum Beredar

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan lembaganya memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap produk farmasi yang diproduksi dan beredar di Indonesia.
Bangun Literasi Kebencanaan, Pertamina Patra Niaga Gencarkan Budaya Siaga Bencana Lawat Panah Kesatria di Indramayu

Bangun Literasi Kebencanaan, Pertamina Patra Niaga Gencarkan Budaya Siaga Bencana Lawat Panah Kesatria di Indramayu

Pertamina Patra Niaga memperkuat kesiapsiagaan bencana di sekolah melalui Panah Kesatria di Indramayu. Program ini diklaim telah memberi manfaat ke hampir 1.000 siswa dan guru.
Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Rizky Ridho Jadi Sorotan Media Italia Jelang Timnas Indonesia Tampil di Piala AFF

Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Rizky Ridho Jadi Sorotan Media Italia Jelang Timnas Indonesia Tampil di Piala AFF

Absennya kapten Timnas Indonesia Jay Idzes pada ajang Piala AFF 2026 diprediksi membawa dampak besar bagi skuad Garuda. Nama Rizky Ridho mendadak jadi sorotan.

Trending

Kepala BPOM: Produk Biofarmasi Harus Penuhi Standar Global Sebelum Beredar

Kepala BPOM: Produk Biofarmasi Harus Penuhi Standar Global Sebelum Beredar

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan lembaganya memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap produk farmasi yang diproduksi dan beredar di Indonesia.
BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia

BPDP dan Ditjenbun Kementan Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun di Indonesia

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kompetensi pekebun swadaya secara nasional
Setelah Eropa, Sejumlah Kota di Jepang Alami Panas Ekstrem 'Kokushobi'

Setelah Eropa, Sejumlah Kota di Jepang Alami Panas Ekstrem 'Kokushobi'

Badan Meteorologi Jepang melaporkan wilayah Tajimi dan Gujo di Prefektur Gifu masing-masing mencatat suhu 40,3 derajat Celsius dan 40 derajat Celsius
Satu Perusahaan Travel Dihentikan Operasionalnya Oleh Pemkab Sumedang

Satu Perusahaan Travel Dihentikan Operasionalnya Oleh Pemkab Sumedang

Operasional salah satu perusahaan travel di Kecamatan Jatinangor dihentikan operasionalnya oleh Pemkab Sumedang, karena dinilai menyalahi sejumlah peraturan daerah yang berdampak pada kemacetan lalu lintas.
4 Shio yang Dapat Keberuntungan Besar pada 22 Juli 2026, Tikus Melebihi Harapan

4 Shio yang Dapat Keberuntungan Besar pada 22 Juli 2026, Tikus Melebihi Harapan

4 shio yang dapat keberuntungan besar pada 22 Juli 2026 sudah terungkap! Tikus melebihi harapan, cek ramalan keuangan dan angka hoki 12 shio Rabu besok sekarang juga!
Polemik Dugaan Pungli Parkir Event Festival Rontek 2026, Dishub Pacitan Sebut Penuhi Target PAD

Polemik Dugaan Pungli Parkir Event Festival Rontek 2026, Dishub Pacitan Sebut Penuhi Target PAD

Festival rontek yang digelar Pemkab Pacitan selama tiga malam, merupakan agenda besar yang setiap tahun menyedot ribuan pengunjung dan meningkatkan mobilitas kendaraan
7 Fakta Sarwendah Pindah Rumah, Ketua RT Bongkar Kondisi Sebenarnya

7 Fakta Sarwendah Pindah Rumah, Ketua RT Bongkar Kondisi Sebenarnya

Sarwendah resmi mengumumkan Sarwendah pindah rumah dari kediaman mewahnya. Ketua RT, kuasa hukum Ruben Onsu, hingga isu lelang ikut menjadi sorotan.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT