Penantian 22 Tahun Berakhir, Pasutri Ini Akhirnya Dikaruniai Bayi Kembar
- tim tvOne
“Kami menanam dua embrio pada hari kelima. Alhamdulillah, keduanya berkembang menjadi kehamilan,” ungkap dr Benny.
Kehamilan kembar pada usia Mina yang telah menginjak 41 tahun memerlukan pemantauan intensif karena tergolong berisiko. Meski sempat menjalani perawatan saat usia kehamilan memasuki trimester akhir, kondisi ibu dan kedua janin dapat dipertahankan hingga usia kehamilan sekitar 36 hingga 37 minggu.
Ryan lahir lebih dahulu pada 2 Juni 2026, disusul adiknya, Raina. Tangis keduanya menjadi momen yang mengakhiri penantian Yusuf dan Mina selama 22 tahun.
Bagi dr Benny, kasus tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menangani pasien dengan gangguan kesuburan.
“Kasus dengan penantian 22 tahun, AMH 0,1, kemudian berhasil hamil bayi kembar, ini pertama kali saya alami,” ujarnya.
Ia mengatakan, peluang kehamilan tetap dapat diupayakan meski kondisi medis pasien tidak ideal. Namun, pasangan yang merencanakan kehamilan disarankan tidak menunda pemeriksaan kesuburan, terutama ketika usia telah memasuki 35 tahun atau lebih.
“Semakin bertambah usia, kualitas sel telur dan sperma akan menurun. Jangan ragu berkonsultasi agar peluang mendapatkan kehamilan tetap terjaga,” katanya.
Kini, rumah Yusuf dan Mina yang selama bertahun-tahun terasa sepi telah dipenuhi tangisan dan tawa dua bayi. Kesibukan menggendong, menidurkan, hingga bergantian mengganti popok menjadi rutinitas baru yang mereka syukuri.
Bagi Yusuf, seluruh perjuangan yang dijalani selama puluhan tahun akhirnya terbayar.
“Tetap semangat. Jangan menyerah,” ucapnya.
Kisah Yusuf dan Mina menjadi gambaran bahwa infertilitas dapat dialami siapa saja dan memerlukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasangan. Dokter juga mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan reproduksi sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui penyebab gangguan kesuburan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat. (gol)
Load more