Jangan Langsung Disapu! Begini Cara Aman Membersihkan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau di Rumah
- Tim tvOne/Wawan Sugiarto
Jakarta, tvOnenews.com - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa hingga sebagian besar bergerak menuju Samudra Hindia.
Tak sedikit abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa dapat masuk ke rumah melalui pintu, jendela, ventilasi, maupun celah bangunan. Meski terlihat debu biasa, abu vulkanik mempunyai karakter berbeda dan dapat mengganggu kualitas udara di dalam rurmah.
Oleh karena itu, masyarakat khususnya di Pulau Sumatera, Banten, dan Jabodetabek jangan terburu-buru menyapu apu dalam kondisi kering. Cara membersihkan abu vulkanik yang keliru justru membahayakan kesehatan.
Seorang dokter bernama Kevin Mak berbagi tips saat abu vulkanik yang terbawa angin telah masuk ke rumah. Ia menyampaikan alasan jangan disapu terlebih dahulu.
"Tolong kalau kamu di daerah terdampak abu vulkanik dan sudah mulai masuk ke rumah atau ke kendaraan, jangan disapu," ujar dokter Kevin Mak dikutip dari Instagram pribadinya, Senin (7/9/2026).
Kenapa Abu Vulkanik Tidak Boleh Langsung Disapu?
- Badan Geologi KESDM
Merujuk dari Volcanoes USGS, abu vulkanik bukan hasil pembakaran seperti material lembut dan halus yang dihasilkan dari pembakaran kayu, daun, atau kertas, melainkan terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik.
Ukuran abu vulkanik biasanya mulai dari pasir hingga seperti tanah liat, mulai dari 2 mm (1/12 inci) hingga kurang dari 0,004 mm (1/256 inci). Abu ini bersifat keras, abrasif, sedikit korosif.
"Kenapa jangan disapu? Karena kalau abu vulkanik seperti itu dasarnya di bawah mikroskop, dia partikelnya tajam," tuturnya.
Abu vulkanik tercipta dari letusan gunung berapi yang ekxplosif. Letusan dalam kondisi ni terjadi saat gas terlarut dalam batuan cair (magma) mengembang ketika magma naik yang keluar begitu dahsyat ke udara.
Kekuatan gas yang keluar dari dalam gunung menghancurkan batuan padat. Magma yang berada di udara dapat mengeras menjadi fragmen batuan vulkanik dan kaca. Dari angin pun meniup partikel abu yang sangat kecil menyebar ke berbagai wilayah.
"Bisa dibilang hampir seperti pecahan batu atau bongkahan batu kecil-kecil," kata dokter Kevin Mak.
Lebih lanjut, kehadiran abu vulkanik memang sangat mengganggu saat masuk ke rumah. Biasanya penghuni akan memilih abu-abu tersebut langsung disapu.
Kata dokter Kevin Mak, langkah tersebut justru bisa memperburuk keadaan karena bisa menghirup abu vulkanik yang dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit paru kronis.
"Kalau kamu langsung sapu dari tanah ataupun dari permukaan, itu bakalan bertebaran dan gampang banget masuk ke paru-paru," lanjutnya.
Selain berdampak ke paru-paru, ia menegaskan bahwa, abu vulkanik yang disapu atau dilap secara sembarangan juga bisa memicu permukaan atau lantai rumah rusak.
"Belum lagi kalau dia nempel di permukaan atau di kulit, kamu langsung lap kering seperti biasa itu bisa baret di permukaan dan juga lecet di permukaan kulit," jelasnya.
Cara Membersihkan Abu Vulkanik
1. Basahkan dan siram permukaan yang terkena abu dengan air. Tujuannya untuk menghindari abu beterbangan.
2. Menggunakan kain pel untuk membersihkan area terdampak abu vulkanik yang sudah dibasahi sebelumnya. Fungsinya mengurangi risiko masuk ke dalam paru-paru dan baret di permukaan.
3. Mengonsumsi vitamin agar menjaga imunitas tubuh, bisa vitamin C, vitamin D, zinc, atau glutathione yang dapat mengurangi risiko saat terpapar abu vulkanik.
"Enggak amit-amit abunya masuk ke dalam paru-paru," tambahnya.
Cara Mencegah Terpapar Abu Vulkanik
Lebih lanjut, dokter Kevin Mak juga berbagi tips pencegahan agar tidak dilakukan secara sembarangan, terkhusus saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Berikut cara terbaiknya:
1 Memilih Masker yang Cocok
Masyarakat disarankan mengguakan masker yang tepat. Setidaknya masker yang dipakai mempunyai kemampuan filtrasi lebih baik saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
Masker yang disarankan berjenis kain filtrasinya kurang lebih 44 persen, surgical sekitar 89-91 persen, respirator N95-equivalent lebih dari 98 persen.
2. Mengurangi Kegiatan Outdoor
Sejumlah gunung di Indonesia termasuk Anak Krakatau sempat erupsi bersamaan pada Minggu, 6 September 2026. Rentetan aktivitas vulkanik tentu beterbangan ke berbagai wilayah
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan atau rumah. Setidaknya hal tersebut dapat berlangsung saat ada keperluan mendesak.
(hap)
Load more