Apa Itu PolyPhil? Mengenal Skin Booster Berbasis DNA Trout dan Apa Manfaatnya untuk Kulit?
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Di tengah berkembangnya teknologi regeneratif dalam dunia estetika medis, polynucleotide (PN) mulai mendapat perhatian sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam perawatan untuk meningkatkan kualitas kulit.
Bahan ini bukan sekadar istilah baru dalam industri kecantikan. Polynucleotide merupakan rantai molekul yang tersusun dari nukleotida dan dalam produk estetika tertentu berasal dari DNA yang telah dimurnikan dari salmon atau trout.
Penelitian selama beberapa tahun terakhir mengeksplorasi potensinya dalam membantu regenerasi jaringan, hidrasi, elastisitas, hingga perbaikan tekstur kulit.
Salah satu alasan bahan tersebut menarik perhatian adalah mekanisme biologis yang diteliti. Polynucleotide diduga dapat mendukung proses perbaikan jaringan dan memengaruhi aktivitas sel kulit, termasuk fibroblas yang berperan dalam produksi kolagen.
Sejumlah penelitian juga mengaitkannya dengan efek antiinflamasi dan peningkatan hidrasi. Namun, istilah seperti “regenerasi”, “anti-aging”, atau “merangsang kolagen” perlu dipahami sebagai potensi berdasarkan penelitian, bukan jaminan hasil yang sama pada setiap orang.
Di Indonesia, perkembangan tersebut mulai diikuti klinik estetika dengan hadirnya berbagai produk berbasis polynucleotide.
PolyPhil menggunakan material yang disebut sebagai Salmon DNA Next Generation yang diekstrak secara khusus dari DNA ikan trout. Kehadirannya menambah pilihan perawatan berbasis biostimulator yang kini semakin banyak dibicarakan dalam estetika medis.
Apa Sebenarnya Polynucleotide dari DNA Trout?
Secara sederhana, polynucleotide adalah fragmen DNA yang telah melalui proses pemurnian untuk digunakan dalam aplikasi medis tertentu. Dalam literatur estetika, sumber yang banyak dibahas antara lain salmon dan rainbow trout.
Bahan tersebut kemudian diformulasikan menjadi produk yang dapat diaplikasikan secara intradermal sebagai bagian dari prosedur biorevitalisasi kulit.
Penelitian mengenai PN berkembang dari penggunaan bahan tersebut dalam bidang regenerasi jaringan. Mekanisme yang diusulkan mencakup stimulasi proses perbaikan jaringan, dukungan terhadap aktivitas fibroblas, serta pengaruh terhadap lingkungan mikro kulit. Sifat hidrofiliknya juga menjadi salah satu alasan PN dikaitkan dengan peningkatan hidrasi dan elastisitas kulit.
Namun, ada hal penting yang perlu dibedakan: polynucleotide (PN) dan polydeoxyribonucleotide (PDRN) tidak selalu identik, meskipun keduanya sama-sama berasal dari material DNA dan sering dibahas dalam konteks regeneratif. Formulasi, ukuran molekul, proses pemurnian, konsentrasi, cara pemberian, dan indikasi medis dapat berbeda antara satu produk dengan produk lainnya.
Karena itu, klaim mengenai manfaat suatu produk tidak bisa otomatis diterapkan pada seluruh produk berbasis DNA salmon atau trout.
Apa Efeknya pada Kulit?
Sejumlah penelitian memang menunjukkan hasil yang menarik, tetapi bukti ilmiahnya masih berkembang. Sebuah systematic review yang diterbitkan di Journal of Cosmetic Dermatology pada 2024 meninjau penelitian polynucleotide untuk estetika.
Dari 1.391 publikasi yang awalnya ditemukan, hanya sembilan studi dengan total 219 pasien yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi perbaikan kerutan, tekstur kulit, dan elastisitas, sementara efek samping yang dilaporkan umumnya ringan dan sementara.
Namun, para peneliti menekankan bahwa kualitas penelitian yang tersedia masih rendah hingga sedang dan belum ada konsensus mengenai penggunaan optimalnya.
Tinjauan lain mengenai penggunaan PN dalam estetika juga menemukan sinyal positif terhadap hidrasi, elastisitas, tekstur kulit dan kerutan. Akan tetapi, penulis menyoroti keterbatasan berupa ukuran sampel kecil, perbedaan protokol pengobatan, serta minimnya penelitian jangka panjang dengan desain uji klinis yang kuat.
Bahkan, tinjauan sistematis yang lebih baru terhadap uji klinis acak hingga Januari 2026 hanya menemukan tujuh penelitian dengan total 183 peserta untuk berbagai aplikasi PN dan PDRN, termasuk peremajaan kulit, pencegahan bekas luka, dan penyembuhan luka.
Hasilnya menunjukkan sejumlah perbaikan pada kerutan, kualitas bekas luka, penyembuhan luka dan kepuasan pasien, tetapi para peneliti tetap mencatat adanya variasi besar dalam formulasi, teknik pemberian, indikator hasil, serta durasi pemantauan.
Dalam konteks tersebut, Youthology Clinic memperkenalkan PolyPhil sebagai perawatan berbasis DNA trout yang ditujukan untuk perawatan kualitas kulit. Menurut klinik, prosedur tersebut menggunakan pendekatan personal dengan analisis kondisi kulit sebelum tindakan.
"Sebagai salah satu klinik kecantikan terpercaya di Jakarta, kami terus berkomitmen membawa teknologi estetika terkini bagi pasien kami. PolyPhil bukan sekadar tren skin booster, melainkan solusi perawatan anti-aging tingkat lanjut," ujar dr. Edo Raharja selaku Direktur Utama Youthology Clinic.
"Ekstrak DNA ikan Trout bekerja intensif menghidrasi dari dalam, memberikan efek glowing dan awet muda yang terlihat nyata dalam waktu singkat," lanjut dr. Edo.
- ist
Namun, seperti prosedur estetika medis lainnya, kesesuaian tindakan tetap bergantung pada kondisi kulit, formulasi produk, teknik pemberian, serta penilaian dokter. Hal yang menarik dari perkembangan ini bukan semata kemunculan nama produk baru, melainkan semakin kuatnya perhatian industri estetika terhadap pendekatan biostimulasi dan regenerasi kulit.
Penelitian mengenai polynucleotide dari salmon maupun trout memang menunjukkan potensi dalam memperbaiki sejumlah parameter kualitas kulit, tetapi bukti klinisnya masih terus berkembang.
Dengan kata lain, PolyPhil hadir di tengah tren yang lebih luas dalam estetika medis: memanfaatkan polynucleotide berbasis DNA trout sebagai material yang diteliti untuk mendukung hidrasi, elastisitas, tekstur, dan proses regenerasi kulit—bukan sebagai “obat awet muda” yang hasilnya dapat dijamin untuk setiap orang. (udn)
Load more