Keseringan Tanya ChatGPT Bisa Sebabkan Ketergantungan? Ini Kata Dokter Spesialis Kejiwaan
- Ilustrated by ChatGPT
tvOnenews.com — Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), seperti ChatGPT yang terlalu berlebihan bisa menyebabkan ketergantungan.
Hal ini disampaikan Dokter Faradila Keiko, Spesialis Kedokteran Jiwa dalam acara Hidup Sehat tvOne yang menjelaskan alasannya.
Platform AI ChatGPT semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membantu pekerjaan, hingga menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan, teknologi ini menawarkan kemudahan yang dapat diakses kapan saja.
Namun, di balik berbagai manfaatnya, muncul pertanyaan mengenai dampak penggunaan AI terhadap kesehatan mental. Apakah terlalu sering bertanya kepada ChatGPT bisa memicu ketergantungan?
Dokter Keiko Faradila, spesialis kedokteran jiwa, menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap AI merupakan fenomena yang mungkin terjadi. Meski demikian, penggunaan AI tidak serta-merta membuat seseorang mengalami adiksi.
“Ini bisa jadi fakta ya. Tapi perlu digaris bawahi ini enggak selalu terjadi kalau misalnya kita pakai AI pasti ketergantungan, itu enggak,“ kata Faradila Keiko dalam program Hidup Sehat tvOne, 13 Agustus 2025.
- YouTube Hidup Sehat tvOne
Menurut sang Spesialis Kedokteran Jiwa tersebut, fenomena ketergantungan terhadap ChatGPT hampir sama bahayanya dengan adiksi narkoba.
“Biasanya pada orang-orang yang memang punya masalah mental, masalah emosional, misalnya dia ada depresi, ada kecemasan, dia bisa berusaha lari nih kabur dari perasaan enggak nyaman itu. Dia akan mencari cara coping untuk mengatasi pikiran negatif, emosi yang enggak nyaman,“ jelasnya.
“Sebenarnya sih fenomena ini mirip ya dengan ketergantungan narkoba misalnya atau ketergantungan internet. Tapi dalam hal ini itu bisa juga terjadi pada AI,“ lanjut Faradila Keiko.
Dokter Keiko menjelaskan, seseorang yang mengalami persoalan kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan, dapat mencari berbagai cara untuk menghindari perasaan negatif yang muncul.
Dalam kondisi tersebut, AI berpotensi menjadi salah satu sarana untuk mengatasi ketidaknyamanan emosional. Seseorang mungkin merasa lebih tenang setelah mendapatkan respons dari AI, sehingga terdorong untuk kembali menggunakannya setiap kali menghadapi masalah.
Jika pola tersebut berlangsung berulang kali, penggunaan AI berisiko berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.
“Iya, sebenarnya sih ini prinsip ketergantungan atau adiksi secara umum ya. Jadi ketika seseorang punya emosi yang enggak nyaman, entah itu cemas, marah, atau memang dia ada depresi yang mendasari, kita kan tentunya enggak enak ya kalau terus-terusan ngerasa cemas, ngerasa sedih. Kita akan cari cara tuh gimana caranya untuk ngatasin hal itu,“ ujar si dokter.
- Ilustrated by ChatGPT
Dokter Keiko menerangkan bahwa pada dasarnya, manusia akan berusaha mencari cara untuk meredakan emosi yang tidak menyenangkan. Cara yang dipilih bisa berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan kebiasaan masing-masing individu.
Sebagian orang memilih aktivitas yang lebih sehat, seperti berolahraga, berbincang dengan teman, atau membangun hubungan sosial. Namun, ada pula yang cenderung memilih cara yang memberikan kelegaan secara cepat.
Dalam konteks penggunaan teknologi, media sosial dan AI dapat menjadi bagian dari pola tersebut. Ketika seseorang merasa lebih baik setelah berinteraksi dengan teknologi, ia mungkin terdorong untuk mengulanginya setiap kali mengalami tekanan emosional.
“Kalau misalnya cara sehat, kita bisa olahraga, kita bisa sosialisasi sama orang lain. Tapi kalau ada orang-orang tertentu yang menggunakan cara yang instan. Kalau pakai misalnya pakai narkoba itu kan secara instan bikin senang, bikin euforia atau bisa tenang,“ bebernya.
“Terus kalau misalnya kita buka sosial media kita kan langsung efeknya tuh di otak sebenarnya mirip sama narkoba. Ada peningkatan zat kimia yang bikin kita senang gitu. Nah AI ini kita kan kalau nanya apapun dia akan jawab dia ada kapanpun untuk kita. Fenomena ketergantungan ini juga bisa terjadi pada AI,“ ungkap Dokter Keiko.
Pada akhirnya, penggunaan ChatGPT tidak selalu berujung pada ketergantungan. Risiko tersebut lebih berkaitan dengan cara seseorang memanfaatkan teknologi, kondisi emosional yang mendasarinya, serta sejauh mana kebiasaan itu memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Load more