Kok Bisa Konten Pendek Menyebabkan Brain Rot? Ini Penjelasan Ilmiahnya
- Dibuat oleh ChatGPT
Ia menjelaskan bahwa konten yang cepat berganti dan penuh kejutan dapat membuat seseorang terus mencari stimulasi berikutnya. Akibatnya, kebiasaan scrolling berulang bisa berkembang menjadi pola penggunaan digital yang sulit dikendalikan.
"Setiap kita scroll, lihat video lucu, dapat konten baru, otak kasih reward kecil. Masalahnya, konten brain rot itu super cepat, penuh kejutan, jadi timbul lonjakan dopamin terus-menerus. Hasilnya, otak memberi sinyal kalau mau senang, scroll lagi. Terbentuk kecanduan digital," jelasnya.
Dampak Brain Rot terhadap Fokus dan Daya Ingat
Selain berpotensi membuat seseorang terus scrolling, Brain Rot juga dikaitkan dengan perubahan kebiasaan dalam menerima dan mengolah informasi.
Menurut Prof. Zulys, otak manusia pada dasarnya dirancang untuk fokus dan melakukan pemikiran mendalam. Namun, paparan informasi yang terlalu cepat dan terus berganti dapat membuat seseorang lebih sulit mempertahankan perhatian.
"Apa yang terjadi di otak? Otak kita sebenarnya dirancang untuk fokus berpikir mendalam, tapi brain rot melakukan sebaliknya. Terlalu banyak informasi menyebabkan plenger, rentang fokus perhatian rusak. Tidak tahan nonton video lebih dari satu menit, daya ingat melemah, informasi tidak masuk ke ingatan panjang, sulit membuat keputusan, sering jadi lebih reaktif, kurang reflektif," ungkapnya.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah bosan ketika harus mengerjakan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama. Misalnya, membaca buku, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan yang memerlukan pemikiran mendalam.
Dampak Brain Rot bagi Anak dan Remaja
Fenomena Brain Rot juga perlu mendapat perhatian khusus ketika terjadi pada anak-anak dan remaja. Sebab, pada usia tersebut, otak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga kebiasaan mengonsumsi konten digital perlu diperhatikan.
Prof. Zulys menyebut paparan konten yang terlalu cepat dan dangkal berpotensi mengganggu kebiasaan belajar serta kemampuan mengelola emosi.
"Apa dampaknya? Ini yang paling bahaya karena otak masih berkembang. Dampaknya sulit fokus belajar, cepat bosan, ketergantungan gadget, gangguan emosi, bahkan risiko depresi meningkat," jelas Prof. Zulys.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak jangka panjang dari kebiasaan tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi perkembangan kecerdasan.
Load more