Kisah Mbah Teguh, Gowes dari Klaten ke Aceh Dengan Sepeda Tua
- Tim tvOne - Andri Prasetyo
Sleman, DIY - Teguh Mukti Widodo (61) warga Klaten, Jawa Tengah, berhasil keliling Indonesia dengan mengayuh sepeda. Dia bersepeda dari Klaten ke Sabang, Aceh selama lebih dari 3 bulan dengan membawa uang Rp 186 ribu.
"Saya membawa uang Rp186 ribu ditambah Rp 1,5 juta (sebagai cadangan)," ujar Teguh Mukti Widodo saat beristirahat di Basecamp Gezeh Touring Community, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (30/3/2022) sore.
Mbah Teguh, sapaan akrabnya, memulai perjalanan dari rumahnya di Desa Belang, Kecamatan Klaten Utara pada 21 Desember 2021 lalu. Selama perjalanan, ia hanya ditemani sepeda tua yang dibeli seharga Rp 570 ribu.
Untuk bekal, Mbah Teguh hanya membawa 4 celana panjang, 5 kaos, dan 1 jaket. Namun ia tidak membawa jas hujan.
Agar staminanya kuat sampai ke Aceh, Mbah Teguh latihan fisik terlebih dahulu. Ia berjalan kaki beberapa kilometer dan sesekali bersepeda di dekat rumahnya.
"Persiapan sekitar tiga bulan, jalan kaki, kemudian belajar pakai sepeda. Ternyata tidak kuat. Tetapi kemudian saya niatkan saja," ungkapnya.
Suka duka menempuh perjalanan ribuan kilometer pun ia alami. Mulai dari menikmati pemandangan alam hingga harus kehilangan telepon seluler karena dicuri orang saat tidur.
Selama perjalanan, ia juga harus beberapa kali ke bengkel sepeda untuk mengganti onderdil. Terutama ban sepeda karena sering kempes.
"Ganti ban belakang 1 kali, ban dalam 3 kali karena (usia) bannya (sudah) lama jadi bocor. Kerusakan terberat lakernya hancur semua," terang Mbah Teguh.
Mbah Teguh mengaku ia sebenarnya bukan pesepeda atau goweser handal. Bahkan untuk berjalan jauh saja sudah ngos-ngosan karena faktor usia.
Akan tetapi kebulatan tekad untuk sampai ke Aceh membuatnya kuat. Mbah Teguh akhirnya sampai ke Aceh pada 18 Februari 2022 lalu.
Saya orang biasa yang tidak punya kemampuan bersepeda tapi karena saya punya keyakinan saya (akhirnya) mampu. Tujuan utama saya itu cuma berdoa ke Masjid Raya Baiturrahman, Aceh. Bukan ke titik nol kilometernya (Sabang)," beber Mbah Teguh.
Selama perjalanan, Mbah Teguh juga hanya beristirahat di sembarang tempat. Ia hampir tidak mau jika diminta tidur di rumah warga.
Load more