Menengok Tradisi Rajaban Warga Wadasmalang Dengan Parcel Jumbo Bernilai Jutaan Rupiah
- Tim tvOne - Wahyu Kurniawan
Kebumen, Jawa Tengah - Sebuah tradisi unik nan mewah terlihat pada peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW atau dikenal masyarakat dengan istilah Rajaban di Masjid Baiturrahman Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung, Jumat (11/2/2022).
Tradisi unik yang mewah itu adalah bagi-bagi parcel berukuran jumbo bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Uniknya lagi, semua parcel dibagikan ke warga desa tetangga yang menghadiri pengajian.
Meski digelar masih dalam masa pandemi covid-19, tak mengurangi kemeriahan dan khidmatnya pengajian dalam rangka Isra Mi'raj. Terbilang tradisi ini mewah karena setiap warga wajib membuat parcel yang berisi aneka makanan jajanan pasar, sembako, ayam ingkung dan buah-buahan. Nominal parcel yang dibuat warga bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
"Ini sudah tradisi warga Wadasmalang yang sudah turun temurun dilakukan. Kita ingin berbagi dengan para warga dari desa tetangga yang menghadiri pengajian," ujar Deni Tafianto salah seorang warga setempat yang ikhlas membuat parcel.
Menurutnya dengan tradisi tersebut peringatan Isra Mi’raj di desanya akan semakin meriah, terlebih banyak masyarakat yang datang dari luar desa, dan parcel-parcel tersebut memang dibagikan untuk warga desa tetangga yang hadir. Selain dapat keberkahan ketika mengikuti pengajian, para jemaah bisa mendapatkan hadiah berupa parcel berukuran jumbo tersebut.
"Untuk membuat satu parcel berukuran jumbo ini masyarakat harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah, dan mereka lakukan dengan ikhlas, harapannya membawa berkah bagi warga sini," ucap Deni mengamini.
Sementara itu ketua panitia peringatan Isra Mi'raj Masjid Baiturrahman Salamun berharap dengan adanya peringatan ini bisa meneguhkan tali silaturahmi masyarakat Desa Wadasmalang khususnya Dukuh Kalikemong.
Disamping itu juga untuk menjaga tradisi dan budaya warga sebagai warisan dari para leluhur. Ini sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta.
"Tradisi ini hanya sebagai wujud syukur warga atas rejeki yang mereka dapat. Tidak ada maksud untuk saling pamer kekayaan dan kemampuan ekonomi antar warganya," jelas Salamun.
Setelah parcel semua terkumpul, Kyai membacakan doa untuk kemudahan rejeki dan warga terhindar dari mara bahaya, dilanjutkan dengan pembagian parcel. Uniknya, warga yang menerima parcel adalah warga desa tetangga, warga setempat hanya diwajibkan membuat parcel dan tidak berhak menerima parcel tersebut. (Wahyu Kurniawan/Buz)
Load more