Omongan Pria Indigo Berdarah Batak-Jawa Bakal Terbukti? Katanya Skuad Patrick Kluivert Kurang Satu Hal ini Buat Lolos Piala Dunia
- REUTERS/Hollie Adams
tvOnenews.com - Harapan besar terus mengiringi langkah Timnas Indonesia di bawah kepemimpinan pelatih anyar asal Belanda, Patrick Kluivert.
Skuad Garuda kini tengah bersiap menghadapi dua laga penting di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Pertandingan pertama akan berlangsung pada 5 Juni 2025 mendatang menghadapi China di Stadion Gelora Bung Karno, sebelum akhirnya bertandang ke markas Jepang lima hari kemudian.
Menariknya, di tengah antusiasme publik, muncul sebuah prediksi dari seorang pria indigo bernama Tigor Otadan.
Lewat kanal YouTube pribadinya, Tigor, yang dikenal sebagai pria berdarah Batak-Jawa, mengungkapkan pandangannya terhadap peluang Timnas Indonesia di bawah Patrick Kluivert.
Pandangan ini tidak semata-mata berdasarkan analisis teknis, namun juga menggabungkan unsur simbolisme, spiritualitas, serta energi tahun 2025 menurut kalender Tionghoa.
Tigor menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan tahun ular kayu.
Dalam perspektifnya, ular adalah simbol kekuatan, kecerdikan, daya tarik, dan kemampuan beradaptasi.
Sedangkan elemen kayu melambangkan pertumbuhan dan kestabilan.
Kombinasi keduanya diyakini memberikan dorongan energi positif, termasuk bagi dunia sepak bola Indonesia yang sedang menata ulang fondasinya.
"2025 ini tahun ular kayu di mana secara simbol ular memiliki kekuatan, memiliki chemistry, memiliki daya tarik, dan sebagainya. Kayu memberikan pertumbuhan," kata Tigor dalam video unggahannya.
Ia mengaitkan simbolisme tersebut dengan masuknya Patrick Kluivert sebagai pelatih kepala.
Menurutnya, pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Kluivert merupakan momen transisi yang penting dan membawa energi baru ke dalam skuad Merah Putih.
Tigor bahkan menyebut bahwa sistem permainan yang diterapkan Kluivert jauh lebih terstruktur dan memiliki arah yang jelas.
"Dengan timnas ini diganti pelatih baru, yang saya lihat di sini sistemnya lebih bagus, upayanya lebih bagus," ujarnya.
Tak tanggung-tanggung, Tigor mengibaratkan Kluivert seperti seorang panglima perang yang cermat mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bertempur.
Strategi permainan, pemilihan pemain, hingga cara membaca lawan disebutnya sudah mengalami peningkatan signifikan di era baru ini.
"Ibarat orang mau berperang, itu senjatanya sudah disiapkan secara betul-betul," lanjut Tigor.
Namun demikian, prediksi Tigor tak serta-merta menjanjikan kemenangan bagi Timnas Indonesia.
Ia menyoroti satu hal penting yang dinilainya masih kurang dimiliki oleh skuad Garuda, yakni keberuntungan atau hoki.
Menurutnya, keberuntungan adalah elemen metafisik yang sering kali berperan dalam pertandingan penting, terlebih di ajang sebesar kualifikasi Piala Dunia.
“Jadi secara prinsip sudah bagus, digantinya pelatih ini juga bagus karena lebih bagus dari yang sebelumnya saya lihat seperti itu. Cuma yang saya lihat di dalam pertandingan hokinya agak kurang,” ungkapnya.
Tigor bahkan memberikan gambaran skenario realistis yang bisa terjadi saat Timnas bertanding melawan negara-negara kuat seperti Jepang atau Arab Saudi.
Ia menyebut kemungkinan hasil pertandingan yang ketat, seperti skor 2-2 atau kalah tipis 2-3, sebagai indikasi kurangnya keberuntungan meski permainan bagus.
"Adapun pertandingan itu hasilnya draw, misal 2-2 atau 2-3, selisihnya sedikit sekali," ujarnya.
Meski begitu, Tigor tetap menaruh optimisme pada arah baru Timnas Indonesia.
Ia menyebut bahwa perubahan yang dibawa oleh Kluivert merupakan langkah ke arah positif.
Fondasi yang lebih kuat, pendekatan yang disiplin, serta kualitas pelatih yang berpengalaman, diyakini akan mendorong performa tim semakin membaik, asalkan dibarengi kerja keras dan kekompakan antarpemain.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga energi positif secara kolektif, baik dari sisi manajerial, tim pelatih, maupun dukungan suporter.
Tigor menyebut, jika semua elemen menyatu dan bersinergi, maka peluang Timnas Indonesia untuk melangkah lebih jauh akan tetap terbuka, meski harus menghadapi tantangan keberuntungan yang tak selalu berpihak. (adk)
Load more