Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Diduga Korban Bullying, Psikolog Ungkap Cara Menyikapi Anak yang Alami Perundungan
- pexels.com/mohamed abdelghaffar
tvOnenews.com - Motif di balik insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara hingga kini masih diselimuti tanda tanya.
Insiden tersebut terjadi pada Jumat (7/11/2025) di Masjid SMAN 72 Jakarta, tepatnya saat ibadah salat Jumat berlangsung.
Pihak kepolisian terus melakukan pendalaman dan menelusuri berbagai kemungkinan, termasuk indikasi adanya tindakan bullying yang dialami oleh pelaku.
- tvOnenews/Rika Pangesti
"Masih dilakukan pendalaman terhadap motif, apakah yang bersangkutan korban bullying? Ini juga masih kita dalami," ungkap keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, Jakarta, Sabtu (8/11/2025).
Pendalaman ini masih berlangsung lantaran sejumlah saksi masih dalam tahap penanganan medis usai peristiwa tersebut terjadi.
"Masih didalami karena, saksi kebanyakan masih dalam penanganan medis," paparnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para orangtua dan pendidik bahwa tindakan perundungan bisa berdampak serius pada kondisi mental anak.
Meski penyelidikan masih berlangsung, peristiwa ini mengingatkan kita pentingnya memahami tanda-tanda anak yang tertekan atau jadi korban bullying, serta bagaimana cara menanganinya agar tidak berakhir pada hal-hal yang membahayakan.
- pexels.com/Mikhail Nilov
Melansir dari YouTube Pecinta dr Aisah Dahlan, CHt, psikolog bagikan beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua ketika anak menjadi korban bullying.
Dr. Aisah Dahlan menyebut, langkah pertama adalah dengan mencari solusi bersama.
Ini menjadi penting lantaran anak yang jadi korban perundungan akan merasa tidak berdaya, putus asa, dan ketakutan.
Namun, pada beberapa kasus, mungkin tidak semudah itu untuk anak langsung bisa menceritakan semua yang dialaminya pada orangtua.
Orangtua sebaiknya jangan memaksa atau memberikan tekanan agar anak langsung bicara jujur saat itu juga.
"Hindari memaksa atau mengancam anak korban bullying untuk menceritakan detail jika ia keberatan atau merasa tersiksa menceritakannya," ungkap dr. Aisah Dahlan.
Orangtua bisa mulai dengan memberikan pelukan hangat atau membiarkan anak menumpahkan emosinya lewat tangisan jika ia belum siap bercerita.
Setelah itu, berikan dukungan dan semangat agar anak merasa tidak sendirian.
Ciptakan suasana rumah yang tenang, nyaman, dan aman supaya anak lebih mudah membuka diri.
“Ketika anak bercerita soal pengalaman yang tidak mengenakan ini, dengarkan dengan tenang dan sabar,” papar dr. Aisah Dahlan.
- Pexels/Vlada Karpovich
Penting bagi orangtua untuk memvalidasi perasaan anak dan meyakinkannya bahwa mereka akan selalu ada sebagai tempat berlindung dan sumber dukungan.
dr. Aisah juga menegaskan, perundungan dapat menimbulkan berbagai gangguan serius seperti masalah makan, kesulitan tidur, bahkan depresi yang bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani.
Karena itu, ia mengimbau agar orangtua segera melapor ke pihak sekolah bila mengetahui anaknya mengalami bullying, agar tindakan tegas bisa segera diambil.
Kasus dugaan bullying yang berujung pada insiden di SMAN 72 Jakarta menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
Perundungan bukan hanya sekadar masalah di lingkungan sekolah, tetapi juga persoalan serius yang dapat meninggalkan luka mendalam pada psikologis anak.
Karena itu, peran orangtua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk menciptakan ruang aman bagi anak agar mereka merasa didengar, dihargai, dan terlindungi.
Dengan komunikasi yang hangat dan dukungan penuh, diharapkan tidak ada lagi anak yang memilih jalan berbahaya hanya karena merasa sendirian menghadapi tekanan.
(nka)
Load more