6 Tragedi Kematian Pendaki di Gunung Slamet, Kasus Terbaru Menimpa Syafiq Ali Setelah Hilang 17 Hari
- Instagram/alamcaputra/gunungslamet_viadesaguci
tvOnenews.com - Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah dan kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Semeru, menjadi destinasi favorit para pendaki dari berbagai daerah.
Dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut, Gunung Slamet menawarkan keindahan alam yang menakjubkan sekaligus tantangan medan yang ekstrem.
Namun, di balik pesonanya, gunung ini menyimpan berbagai kisah kelam yang menimpa para pendaki.
Setidaknya, sudah beberapa kali tragedi maut terjadi di gunung yang membentang di perbatasan lima kabupaten: Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Berikut enam peristiwa tragis pendaki yang meninggal dunia di Gunung Slamet dalam dua dekade terakhir.
1. Januari 2026 - Syafiq Ridhan Ali Razan (18)
- Kolase tvOnenews.com/ Istimewa
Kasus terbaru terjadi pada awal tahun 2026. Seorang pendaki muda bernama Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan hilang selama 17 hari di Gunung Slamet.
Syafiq, pendaki asal Magelang, mendaki bersama rekannya, Himawan (18), melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Pemalang, pada 28 Desember 2025.
Keduanya sempat berpisah ketika Himawan mengalami kram di Pos 5.
Syafiq berinisiatif turun lebih dulu untuk mencari bantuan, namun tak pernah kembali.
Setelah pencarian panjang, jasad Syafiq ditemukan pada 14 Januari 2026 di kawasan Pos 9 area Batu Watu Langgar, tidak jauh dari lokasi Himawan ditemukan selamat. Proses evakuasi dilakukan oleh tim Basarnas Jawa Tengah bersama relawan.
2. Februari 2025 - Marcel (16)
- YouTube/@BESOKPAGICH
Tragedi lain terjadi pada 23 Februari 2025. Seorang pendaki asal Bekasi, Marcel, meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang sedalam 100 meter di jalur Bambangan, Purbalingga.
Marcel mendaki bersama empat rekannya dan sempat mencapai puncak sebelum insiden terjadi.
Saat perjalanan turun, ia berjalan mendahului rombongan karena terburu-buru mengejar jadwal kereta.
Kabut tebal membuat pandangan terbatas hingga Marcel terpeleset dan jatuh. Tim SAR menemukan korban masih bernapas namun tidak sadar. Setelah dievakuasi, Marcel mengembuskan napas terakhir di Pos 6 sekitar pukul 23.30 WIB.
3. Februari 2023 - Sadewa Natha Radya (Mahasiswa Unsoed)
Seorang mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Sadewa Natha Radya, meninggal dunia saat mendaki lewat jalur Guci, Kabupaten Tegal.
Anggota UPL Mapala Unsoed ini mengalami hipotermia parah saat pendakian pada 26 Februari 2023.
Tim SAR yang mengevakuasi jasadnya menghadapi badai hebat dan membutuhkan waktu enam jam untuk menurunkan korban ke bawah.
Sadewa juga diketahui memiliki riwayat asma, yang diduga memperparah kondisinya di suhu ekstrem gunung.
4. Juni 2022 - Hardiat Hidayatullah (Cimahi)
Tragedi berikutnya menimpa Hardiat Hidayatullah, pendaki asal Cimahi, Jawa Barat. Ia mendaki bersama dua rekannya dan seorang porter melalui jalur Bambangan pada 18 Juni 2022.
Saat menuju Pos 8, Hardiat mendadak pingsan dan kritis. Tim SAR yang tiba di lokasi sempat memberikan napas buatan, namun nyawanya tidak tertolong.
Pemeriksaan medis menunjukkan Hardiat meninggal karena gagal jantung. Jasadnya kemudian dibawa ke RSUD Goeteng Tarunibrata, Purbalingga, sebelum diserahkan kepada keluarga.
5. Mei 2021 - Sumardi (47)
Pada 24 Mei 2021, seorang pendaki berusia 47 tahun bernama Sumardi asal Kabupaten Magelang ditemukan meninggal dunia di Pos 5 jalur Bambangan.
Berdasarkan laporan BPBD Purbalingga, Sumardi meninggal akibat hipotermia tanpa adanya tanda kekerasan.
Ia sempat pingsan saat hendak melanjutkan perjalanan ke Pos 6 dan kemudian tidak menunjukkan tanda-tanda vital meski sudah diberi pertolongan pertama oleh rekan-rekannya.
6. Februari 2001 - Tragedi Mapagama UGM
Kisah paling memilukan terjadi pada Februari 2001, ketika lima anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama) meninggal dunia akibat terjebak badai di puncak Gunung Slamet.
Tujuh anggota tim awalnya melakukan pendakian melalui jalur Kaliwadas, Brebes. Namun, pada perjalanan menuju puncak, mereka diterpa badai besar selama tiga hari.
Salah satu anggota, Masrukhi, meninggal lebih dulu karena hipotermia, sementara lima lainnya tewas saat berusaha turun mencari pertolongan.
Tragedi ini menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah pendakian Gunung Slamet.
Enam peristiwa di atas menjadi pengingat bahwa Gunung Slamet, meski menawan, juga menyimpan bahaya besar bagi siapa pun yang tidak siap secara fisik maupun mental.
Medan ekstrem, cuaca cepat berubah, serta suhu yang dapat turun drastis menjadi faktor utama penyebab banyaknya korban di gunung yang dijuluki sebagai “gunung tertinggi di jantung Jawa Tengah” ini. (adk)
Load more