Pihak Denada Sebut Kedatangan Rombongan Ressa ke Jakarta Bikin Gaduh
- Kolase tvOnenews.com / YouTube Cumicumi / Instagram @denadaindonesia
tvOnenews.com - Pihak Denada akhirnya angkat bicara terkait kedatangan rombongan Ressa Rizky Rossano ke Jakarta yang belakangan menjadi sorotan publik.
Kehadiran Ressa bersama timnya disebut bertujuan meminta pertanggungjawaban dan pengakuan, namun menurut pihak Denada, langkah tersebut justru menimbulkan kegaduhan di tengah proses hukum yang sedang berjalan.
Melalui kuasa hukumnya, Moch. Iqbal, pihak Denada menegaskan bahwa kliennya tidak pernah menelantarkan Ressa Rizky Rossano.
Mereka mengklaim Denada telah memberikan kasih sayang serta dukungan materi, termasuk rutin mentransfer uang hingga Januari 2026.
Bantahan ini disampaikan untuk menepis tudingan penelantaran yang selama ini berkembang di ruang publik.
Polemik semakin mencuat setelah pihak Ressa mengaku sempat mendatangi kediaman Denada di Jakarta dan merasa diabaikan selama beberapa jam.
Menanggapi hal tersebut, pihak Denada justru menyoroti cara kedatangan rombongan Ressa yang dinilai kurang tepat, terlebih di tengah agenda mediasi yang seharusnya dimanfaatkan sebagai upaya damai.
Iqbal menyampaikan bahwa permintaan pengakuan sebenarnya sah-sah saja, namun ia menekankan posisi Denada sebagai seorang ibu.
“Kalau masalah itu ya permintaan ya bolehlah ya. Cuman kan ya ini ibunya, loh. Masa harus gini, harus gini kan ya gimana,” ujar Iqbal dalam kanal YouTube Cumicumi (1/2/2026).

Kuasa Hukum Denada, Moch. Iqbal. (Sumber: YouTube Cumicumi)
Ia juga menegaskan bahwa secara prinsip, Denada telah mengakui status Ressa sebagai anak kandung dan merasa kewajibannya telah dijalankan.
“Ya mestinya ya sudah, ya mulai dulu kan memang diakui, loh, Mas. Sebetulnya ya seperti yang saya sampaikan kemarin, enggak ada masalah apa-apa, dibiayai, disekolahkan. Tiba-tiba ada gugatan, kita kan juga ada apa ini, kan, gitu, terus ada podcast ke mana-mana, waduh tujuannya apa juga,” katanya.
Pihak Denada menilai kehadiran Ressa ke Jakarta yang dibarengi dengan kemunculan di berbagai podcast dan konferensi pers justru memperkeruh suasana.
Iqbal menyoroti bahwa masa mediasi seharusnya menjadi waktu untuk menenangkan diri.
“Kemarin masa mediasi kan kita hitung anggaplah tiga minggu ya. Mestinya ini masa damai, cooling down dulu untuk menentukan waktu kapan ketemunya. Malah podcast ke mana-mana. Akhirnya kan bikin gaduh seakan-akan, kami nilainya gitu,” ucapnya.
Load more