Curhat Pilu Ayah Nizam Syafei, Sang Putra Sempat Minta Maaf Dua Kali Sebelum Meninggal
- Kolase tvOnenews.com / Kabar Siang / YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo
tvOnenews.com - Curhat pilu ayah Nizam Syafei mengungkap detik-detik terakhir sebelum sang putra berpulang.
Dalam kisah yang dibagikan, Nizam Syafei disebut sempat meminta maaf dua kali kepada ayah Nizam Syafei sebelum akhirnya meninggal dunia.
Cerita Nizam Syafei ini pun menyita perhatian publik karena dugaan kekerasan yang menyertainya.

Ayah Nizam Syafei. (Sumber: YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo)
Kasus yang terjadi di Sukabumi tersebut menjadi sorotan luas masyarakat. Nizam diduga mengalami penyiksaan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Sang ayah, Anwar, tampak berusaha tegar saat menyampaikan penyesalan dan rasa kehilangan mendalam, sementara Pak Isep selaku kakek angkat tak kuasa menahan haru mengenang sosok Nizam yang disebut ceria dan penuh kasih.
Kisah ini dibagikan keluarga dalam tayangan YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo pada 23 Februari 2026.
Denny Sumargo membuka perbincangan dengan menyampaikan belasungkawa.
“Sebelumnya saya pengin belasungkawa dulu ya. Bapak adalah bapaknya Nizam ya, Pak Anwar ya. Terus Pak Isep ya, kakek angkat dari Nizam ya. Nah, aku nih kan bingung yang aku tahu itu anak itu waktu divideoin masih hidup kan ya? Iya. Ceritanya gimana sih?” ungkapnya.
Anwar kemudian mulai menceritakan kondisi putranya sebelum kejadian, “Anak saya itu sebetulnya tinggalnya di pondok pesantren, mengaji sambil sekolah.”
Ia menjelaskan bahwa menjelang puasa, para santri dipulangkan, “Nah, karena mau puasa jadi memang semuanya dipulangkan dulu. Mau munggah lah istilahnya munggahan pulang dulu ke rumah. Dan bukan hanya dia saja, semua santri itu dipulangkan dulu karena mau puasa.”
Menurutnya, sebelum ia pergi ke Sukabumi, kondisi Nizam baik-baik saja, “Sebelum saya pergi ke Sukabumi, anak saya dalam kondisi baik-baik saja. Memang ada luka di sini (menunjuk lubang hidung) sedikit karena dia pilek jadi suka dikopek gini. Sedikit. Tapi kalau yang lain enggak ada luka.”
Namun situasi berubah ketika sang istri menelepon larut malam, “Nah, saya ngomong, ‘Ayah mau ke Sukabumi, pamit ya.’ Sehari di sana, semalam jam 11.00 malam istri saya nelepon. Padahal pasien itu belum beres sebetulnya saya.”
Ia melanjutkan ucapan istrinya, “‘Ayah pulang, Raja panas terus manggil-manggil nama ayah.’ Saya langsung berkemas, langsung pulang.”
Setibanya di rumah di Jampang, Bojongsari, Anwar melihat kondisi putranya yang berbeda.
“Saya pulang terus pas saya masuk rumah, saya melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Jadi, anak saya ditanya sama saya enggak ngejawab. Tapi dia ke saya ngomong. Tapi kalau saya jawab, ‘Jang, ini kenapa?’ Dia diam saja sambil muter-muter selimut gini aja gitu,” jelas Anwar.
Momen paling menggetarkan terjadi ketika Nizam memegang pipi ayahnya,“Nah, terus dia pegang pipi saya. Dia minta maaf ke saya. ‘Ayah, maafin Dedek ya.’ Dia bilang sampai dua kali dia minta maaf ke saya.”
Anwar pun membalas dengan penuh penyesalan, “Nah, kata saya, ‘Kenapa minta maaf gitu? Ujang teu salah, kamu enggak salah.’ Kata saya yang salah itu ayah. Saya tanya ini kenapa, dia enggak ngomong. Sedikit pun enggak ngomong.”
Ia kemudian menyadari adanya luka di tubuh anaknya, “Nah, terus saya tanya ke mamanya, ‘Mah, ini kenapa kulit si Mah, ini kenapa kulit anak, kulit Raja seperti ini?’”
Saat ditanya Denny Sumargo tentang kondisi kulitnya, Anwar menjawab singkat, “Melepuh.”
“Bagian mana aja?” tanya Denny.
“Tangan, kaki, paha, punggung,” jawab Anwar.
Ia juga menunjukkan bagian dekat mata. Menurut Anwar, istrinya sempat menjelaskan, “‘Ya, ini kan sakit panas, Yah, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang kalau panasnya berlebihan suka melepuh seperti ini, seperti kesiram air panas,’ katanya gitu.”
Niat awalnya hendak membawa Nizam ke dokter pagi hari, namun waktu terlewat.
“Niatnya saya mau pagi-pagi ke dokter, ke rumah sakit. Niatnya, mungkin karena saya capek jadi bangunnya saya agak kesiangan,” ungkap Anwar dengan nada kecewa.
Setibanya di rumah sakit, pernyataan tenaga medis membuatnya terpukul, “Saya bawa ke rumah sakit. Udah sampai di rumah sakit, datanglah dua orang, enggak tahu perawat, enggak tahu dokter ya karena pakai pakaian biru itu. Dia cek-cek di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya. Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong.”
“Dokter perempuan itu ngomong lantang loh. Nah, sudah gitu amarah saya sebenarnya udah kuat di sini (menunjuk dada), cuma saya masih tetap nahan karena banyak orang kan di situ,” lanjutnya.
Nizam sempat memberikan jawaban saat ditanya kakek angkatnya. “Dipaksa minum air panas katanya. Nah, dari situ saya baru meluap, saya mau hantem. Cuma kan saya kalau sama kakek mah pasti ngalah.”
Pak Isep menambahkan, “Saya lerai kan waktu itu.”
Anwar menutup kisahnya dengan suara bergetar. “Terus saya dipanggil ke ruangan khusus. Itu pun sama ngomongnya ke saya. ‘Jadi, Pak Anwar kita bukan nunduh ya, ini sepertinya ada indikasi kekerasan.’ Itu dokternya yang ngomong.”
“Dibawa ke ruang ICU. Tidak lama kemudian sekitar dua jam pas ayah pulang, anak saya lolos, meninggal.”
Kisah pilu ayah Nizam Syafei ini meninggalkan luka mendalam dan menjadi pengingat betapa berharganya perlindungan terhadap anak. Publik pun berharap kasus yang menimpa Nizam Syafei dapat diusut tuntas demi keadilan.
(anf)
Load more