Sindiran Keras Gubernur Dedi Mulyadi ke Pedagang Nanas, Sudah Difasilitasi Kios Gratis Tapi Masih Tak Tertib
- Instagram/dedimulyadi71
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik setelah melontarkan sindiran keras kepada para pedagang, khususnya pedagang nanas, saat meninjau pembangunan kios relokasi di Subang.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memastikan penataan kawasan perdagangan berjalan dengan baik dan sesuai dengan konsep yang telah dirancang.
Dalam peninjauan itu, pria yang akrab disapa KDM tersebut menekankan pentingnya penataan pedagang agar lebih tertib, sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Namun, ia menemukan masih adanya perilaku kurang disiplin dari sebagian pedagang meski sudah difasilitasi tempat berjualan yang layak.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah membangun kios relokasi bagi pedagang dengan konsep arsitektur khas Sunda, yakni “Julang Ngapak”.
Desain ini dikenal dengan bentuk atap yang menyerupai sayap burung yang sedang mengepak, serta penggunaan material tradisional seperti ijuk.
Dedi Mulyadi secara khusus meminta agar pembangunan kios tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Ia juga menyoroti aspek teknis bangunan, termasuk penggunaan material.
“Ini jangan pakai kaca, semua pakai jalusi, pintunya pintu jalusi, jendela juga jalusi, jangan pakai kaca,” tegasnya saat meninjau lokasi.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Program relokasi ini bertujuan untuk menata pedagang yang sebelumnya berjualan di pinggir jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Salah satu yang disorot adalah pedagang buah nanas yang selama ini berjualan di bahu jalan.
Kang Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa para pedagang tersebut telah diminta untuk pindah ke kios yang telah disediakan.
“Saat itu ada yang jualan nanas di pinggir jalan, sekarang diangkut dan disuruh pindah ke sini,” ujarnya.
Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan kondisi yang dinilai belum tertata dengan baik.
Saat berdialog langsung dengan pedagang, Kang Dedi menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi kios yang masih terlihat berantakan.
“Nah sekarang kan sudah ada kios, berantakan, tidak beres-beres. Sudah dirapikan malah dirusak. Jadi bagaimana mau berkahnya?” katanya dengan nada tegas.
Ia bahkan mempertanyakan jumlah pedagang yang masih berjualan di lokasi tersebut, untuk memastikan penataan berjalan sesuai rencana.
Lebih lanjut, KDM juga menyinggung soal perilaku sebagian pedagang yang dinilai kurang menghargai fasilitas yang telah diberikan secara gratis.
“Pedagang itu kadang pelit begitu. Tempat ingin tapi tidak mau bayar. Sampah dibuang sembarangan,” ujarnya.
Pernyataan ini langsung menjadi perhatian, mengingat fasilitas kios tersebut diberikan tanpa biaya kepada para pedagang.
Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kios yang dibangun oleh pemerintah diberikan secara gratis kepada para pedagang.
Saat salah satu pedagang bertanya apakah kios tersebut akan disewakan atau gratis, KDM menjawab singkat, “Gratis.”
Tak hanya itu, ia juga menginstruksikan kepada jajarannya untuk memberikan bantuan dana sebesar Rp1 juta kepada setiap pedagang, guna membantu proses pemindahan barang ke kios baru.
“Kasih satu pedagang satu juta ya,” perintahnya.
Namun, ia juga memberikan peringatan tegas bahwa jika pedagang tidak mengikuti aturan, maka fasilitas tersebut bisa saja dicabut.
“Kalau tidak nurut, kiosnya saya lepas saja,” tegasnya.
Program relokasi pedagang ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih tertib, bersih, dan nyaman.
Selain itu, penataan ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan dari sisi estetika.
Kang Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan kios dilakukan dengan harapan besar agar tidak ada lagi kesemrawutan di kawasan tersebut.
Langkah ini juga mencerminkan upaya pemerintah dalam menggabungkan penataan ekonomi rakyat dengan pelestarian budaya lokal, melalui penggunaan desain arsitektur khas Sunda yang memiliki nilai estetika. (adk)
Load more