Dedi Mulyadi Merasa Tak Dihargai saat Pemuda Asal Samosir Menghindarinya, KDM: Saya Bukan Penjahat
- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Momen tak biasa terjadi saat Dedi Mulyadi melakukan kunjungan lapangan. Bukannya disambut ramah, ia justru dibuat heran oleh sikap seorang pemuda yang terus menghindar saat diajak bicara. Bahkan, situasi ini membuat Dedi Mulyadi merasa tidak dihargai hingga harus memberi nasihat langsung.
Peristiwa itu bermula ketika Dedi Mulyadi tiba-tiba berhenti di sebuah bengkel tambal ban di pinggir jalan. Ia memanggil orang yang berada di dalam bengkel, namun pria tersebut justru menghindar.
Merasa ada yang janggal, Dedi Mulyadi turun dari mobil dan menghampiri pemuda tersebut. Saat hendak masuk, pemuda itu berkata, “Orangnya lagi keluar.”
![]()
Dedi Mulyadi dan Pemuda Asal Samosir. (Sumber: YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
“Oh, abang siapa?” tanya Dedi Mulyadi.
Ternyata, pemuda tersebut adalah adik dari pemilik bengkel dan berasal dari Samosir. Namun, sikapnya tetap tertutup dan enggan keluar dari bilik bengkel.
“Tinggalnya di sini? Sini dulu, Abangnya jangan sembunyi. Enggak apa-apa. Kenapa harus sembunyi? Santai aja,” ujar Dedi Mulyadi.
Karena tak kunjung keluar, Dedi Mulyadi pun mencoba menenangkan situasi.
“Saya bukan penjahat. Kenapa harus sembunyi? Ke mana yang punya tambal bannya?” ucapnya.
Pemuda tersebut menjawab bahwa kakaknya sedang berbelanja ke Kalijati, namun tidak tahu kapan kembali. Saat diminta nomor ponsel sang kakak, pemuda itu justru tidak mau memberikannya.
“Enggak mungkin abang enggak tahu nomor HP-nya. Saya juga mau lewat ke Kalijati. Nanti bisa ketemu di jalan, mau saya telepon,” kata Dedi Mulyadi.
Ia kembali menegaskan agar pemuda tersebut keluar dan menghargai orang yang datang.
“Masa abang enggak menghargai saya? Sini,” ujar Dedi Mulyadi.
Namun, pemuda itu tetap menutup diri. Bahkan saat ditanya tempat tinggalnya, ia terlihat ragu menjawab. Setelah didesak, ia akhirnya mengaku bermarga Sihombing dan tinggal di Lebaksiuh.
“Apalagi tinggalnya di Lebaksiuh, loh. Desanya Desa Sukasari, kan. Saya kan tinggal di situ, kenapa abang takut sama saya?” tanya Dedi Mulyadi.
Pemuda itu hanya menggeleng saat ditanya apakah Dedi pernah berbuat jahat padanya.
“Saya pernah berbuat jahat sama abang?” tanya Dedi Mulyadi.
Diketahui, pemuda tersebut baru tiga hari berada di Jawa Barat dan tinggal di kontrakan bersama kakaknya. Ia datang dari Samosir untuk mencari pekerjaan.
“Makanya kalau mau mencari kerja harus kenal sama saya,” ujar Dedi Mulyadi.
Melihat sikap pemuda itu yang terus menghindar, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan nasihat tegas.
“Saya kasih tahu sama Abang, hidup harus saling menghargai. Iya, enggak boleh begitu. Saya udah baik-baik nyapa sama abang. Bahasa saya lemah lembut, abangnya kayak menganggap saya orang jahat. Enggak boleh. Apalagi abang tinggalnya tetanggaan sama saya gitu loh,” kata Dedi Mulyadi.
Ia juga mengingatkan pentingnya beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Bang, saya kasih tahu. Apalagi abang baru ke sini harus ramah sama kita. Perasaan kita ramah deh sama abang, kenapa abangnya mukanya galak?” ujarnya.
Pemuda tersebut menjawab singkat bahwa sikapnya adalah “bawaan dari sana”.
“Makanya bawaan sana diajarin agar mengikuti kebudayaan yang di sini. Sini, sini. Walaupun bawaan dari sana, kalau di sini harus saling menghargai. Saya kan menghargai abang. Abang kayak enggak mau dari tadi menghindar. Harusnya abang ‘iya, Pak’, gitu loh,” lanjut Dedi Mulyadi.
Ia menutup dengan pesan yang menekankan pentingnya saling menghargai di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Harus saling menitipkan diri. Kita baik loh sama abang. Kenapa abangnya mukanya? Walaupun memang karakternya begitu, tapi kan bisa dong. Saya juga gaul sama orang Batak banyak tiap hari malah. Ya abangnya enggak boleh gitu,” tutup Dedi Mulyadi.
Momen ini pun menjadi sorotan karena memperlihatkan interaksi langsung di lapangan sekaligus pesan sosial tentang pentingnya sikap terbuka dan saling menghargai, terutama bagi pendatang di lingkungan baru.
(anf)
Load more