Pandangan Berkelas Dedi Mulyadi soal Karakter Pengusaha, Sebut Lebih Suka Sederhana: Tidak kayak di Sinetron
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Ia justru menepis pandangan tersebut. Menurutnya, perspektif seperti ini harus diubah dari sekarang.
Dedi Mulyadi mengambil contoh perspektif tentang pengusaha dalam dunia sinetron. Dalam alur ceritanya menggambarkan pengusaha maupun orang kaya mempunyai gaya hidup yang mahal.
"10 tahun, 20 tahun ke belakang yang disebut dengan sinetron. Dalam sinetron, itu selalu dibuat cerita orang kaya, pengusaha menenteng tasnya paling mahal, mobilnya paling mahal, rumahnya paling bagus, setiap hari yang diomongin selingkuh," terangnya.
Mantan anggota DPR RI ini justru mempertanyakan gambaran pengusaha sulit terlepas dari gaya hidup glamor. Menurut pandangannya, orang sukses selalu memikirkan target dan masa depan.
"Nggak ada dalam dunia pengusaha begitu nggak ada. Pengusaha itu jangankan ngomongin selingkuh, setiap hari dia berpikir apa yang menjadi target hidupnya," tegasnya.
Ia meyakini bagi orang yang menerapkan pengurasaha ideologis. Hal ini akan membawa hasil untuk puncak nasibnya yakni mendapatkan kebahagiaan.
"Kebahagiaan pengusaha itu di mana? Mana kala produksinya sampai target, mana kala ide menciptakan satu barang yang kemudian barang itu bisa diterima di pasar," jelasnya.
Selain itu, kata KDM, kebahagiaan pengusaha tidak sekadar mengacu pada keberhasilan bisnis atau usahanya. Ia menyebut pengusaha yang sukses dapat melihat pekerja sejahtera.
"Ketika melihat para pekerjanya bisa bekerja dengan baik dan bisa memberikan kesejahteraan yang tinggi dari para pekerjanya. Itulah pengusaha," ucapnya.
Kenapa Membahas Karakter Pengusaha Sangat Penting?
KDM melihat fenomena di Indonesia. Dalam pandangannya, ia berpendapat karakter pengusaha di Indonesia sangat minim.
"Yang banyak di Indonesia itu, pedagang. Kalau kamu pedagang, harga barangnya berapa, kamu mau beli berapa, ke sini jual. Nah, kalau pedagang itu kadang-kadang nggak peduli dengan apapun, nggak peduli dengan bangunannya yang tidak pernah diurus, nggak peduli dengan toilet di tempat dagangnya yang kotor, nggak peduli apakah bangunannya melanggar sepadan atau tidak, yang penting untung. Itu pedagang," bebernya.
Sementara, menurut dia, pengusaha tidak pernah mempersoalkan tentang keuntungan. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat Jabar mengubah pola pikir untuk menjadi pengusaha agar mencapai kebahagiaan di masa depan.
Load more