Lihat Masyarakat Pedalaman Trauma Ada Pejabat yang Janji Manis Buat Perumahan, Sherly Tjoanda: Kita Bikin Lebih Bagus
- Tangkapan layar YouTube GubSherly
Tidore, tvOnenews.com - Momen Gubernur Malut, Sherly Tjoanda Laos saat mengunjungi masyarakat adat Suku Togutil atau Suku Tobelo kembali viral.
Pada Rabu (6/5/2026), Sherly Tjoanda sempat menyapa Suku Togutil, komunitas adat terpencil yang mendiami hutan di pedalaman Taman Nasional Aketajawe Lolobata.
Sherly Tjoanda mengunggah momen kunjungan ini melalui akun YouTube pribadinya, Selasa (12/5/2026). Selain penyerahan bantuan sosial, Gubernur Malut itu dan rombongan Kementerian Sosial (Kemensos) juga meninjau rumah-rumah dihuni warga.
Sherly pun berdialog dengan warga. Di momen ini, ia menyampaikan beberapa program serius untuk warga Suku Togutil, salah satunya menawarkan pembangunan perumahan seluas 5 hektare untuk rumah layak huni (RLH).
"Kita mau bikin mau kasih lahan 5 hektare buat mereka, mau bikin perumahan nanti modelnya mereka setuju dulu supaya mereka bisa tinggal menetap," ujar Sherly Tjoanda dikutip, Rabu (13/5/2026).
Selain itu, Sherly menegaskan bahwa, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut bersama Kemensos akan rutin memberikan makanan bulanan. Mereka juga diajarkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Nanti untuk diajari berkebun, beternak, pelihara ayam, mau nggak?," lanjutnya.
Reaksi usai Ditawari Rumah Layak Huni oleh Sherly Tjoanda
- Tangkapan layar YouTube GubSherly
Dalam momen ini, Sherly bertemu seorang warga Suku Tobelo, Doko yang langsung menunjukkan ekspresi datar. Hal ini berkaitan lantaran warga masyarakat adat tersebut masih menyimpan trauma.
Penyebabnya lantaran sebelumnya mereka pernah dijanjikan serupa. Ada pejabat lain tidak merealisasikan pembangunan perumahan yang layak untuk masyarakat Suku Tobelo Dalam.
Sherly Tjoanda berjanji untuk segera merealisasikan pembangunan perumahan tersebut. Pemprov Malut dan Kemensos akan membuat kualitas RLH yang lebih bagus.
Doko hanya meminta satu hal. Ia menginginkan janji tersebut tidak sekadar omongan, tetapi direalisasikan dengan baik demi ketentraman sekitar 20 Kartu Keluarga (KK) Suku Togutil.
"Yang penting hidup tentram," ucap Doko sambil menggunakan bahasa Tobelo.
Kemudian, Sherly berdialog dengan warga lainnya. Melalui pendeta yang bisa berbahasa Tobelo, menuturkan pendekatan menawarkan secara hati-hati.
Ia tetap mengutamakan penuh penghormatan terhadap masyarakat adat. Pembangunan yang ditawarkan menggunakan pemahaman sosial dengan tujuan tetap menjaga nilai budaya hingga pola kehidupan Suku Tobelo Dalam.
Gubernur Malut itu berjanji perumahan seluas 5 hektare tersebut akan bersifat selamanya. Pasalnya, ia ingin meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat adat di pedalaman tanpa menghilangkan identitas budayanya.
"Jadi, Gubernur mengunjungi ke sini lihat lokasi supaya yang 5 hektare bisa untuk peternakan sapi. Jadi, itu harus selamanya," terang Sherly.
Tawaran tersebut langsung membuat warga bahagia. Doko yang berpenampilan sederhana juga senang mendengar hal tersebut.
Di momen ini, Sherly juga berdialog dengan Kepala Suku Tobelo Dalam setempat yang sudah lanjut usia (lansia). Kepala suku itu mengaku telah mengalami gangguan penglihatan.
Sherly langsung memperintahkan agar pemerintah daerah menurunkan tim kesehatan untuk segera melakukan operasi mata. Kabar tersebut membuat Kepala Suku itu bahagia.
Dari pembicaraan ini, Sherly juga menyoroti kondisi kesehatan. Beberapa warga khususnya anak-anak Suku Tobelo Dalam terlihat kekurangan gizi.
Langkah awal setidaknya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Nantinya, pemerintah bisa memberikan susu, vitamin, dan sebagainya guna menjaga kesehatan bagi anak-anak.
"Saya lihat anak-anaknya banyak yang kurang gizi. Beberapa anak perutnya sudah buncit," katanya.
Sherly kemudian mengungkapkan keinginan besarnya berkaitan dengan administrasi kependudukan. Dari hasil kunjungan itu, banyak warga belum mempunyai nama hingga tidak mengetahui usianya.
Istri mendiang Benny Laos itu menegaskan, Pemprov Malut akan melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP). Hal ini guna membantu agar masyarakat adat mendapat akses bantuan sosial dan pembangunan lainnya dengan mudah.
"Hari ini sudah siap kan? Hari ini aja kalau bisa sekarang. Habis ini turun ke bawah ambil sembako langsung perekaman biar rumahnya juga bisa dibangun," tukasnya.
Ia pun berpamitan. Wanita 43 tahun ini senang kedatangannya diterima oleh masyarakat Suku Togutil, terutama terkait penawaran pembangunan dan menciptakan kesejahteraan hidup yang layak.
"Ini pertama kali aku ke Suku Togutil. Aku sering mendengar soal berencana tapi nggak kejadian. Senang banget mereka menerima penawaran kita untuk hidup menetap. Suatu hari nanti jika ada akademisi yang mau mempelajari, meneliti lebih dalam tentang budaya, kebiasaan bisa mudah datang ke sini," pungkasnya.
(hap)
Load more