Dulu Jadi Bahan Olokan Teman Sekolah, Dedi Mulyadi Kini Jadi Orang Nomor Satu di Jawa Barat: Kisah Dedi 'Maling Hayam'
- jabarprov.go.id
tvOnenews.com - Melalui akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi membagikan cerita masa kecil soal asal-usul namanya yang ternyata menyimpan pengalaman pahit sekaligus lucu. Video tersebut langsung viral dan menuai ribuan komentar dari warganet.
Di tengah citranya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, cerita masa kecil Dedi Mulyadi justru membuat publik semakin merasa dekat dengannya.
Banyak netizen mengaku terhibur sekaligus tersentuh setelah mendengar bagaimana ia pernah menangis kepada sang ayah hanya karena tak tahan diejek teman-temannya di sekolah.
Kisah itu kini menjadi perbincangan hangat karena memperlihatkan sisi lain seorang gubernur yang dikenal tegas dan sederhana.
Asal Usul Nama Dedi Mulyadi yang Jarang Diketahui Publik
Melansir dari Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa nama lengkap yang sempat diberikan sang ayah sebenarnya adalah “Dedi Mulyadi Hartono”.
Namun, nama itu akhirnya tidak dipakai karena pengalaman masa kecil yang membekas di ingatannya.
“Dedi Mulyadi Hartono ❌️, Dedi Maling Hayam ✅️,” tulis Dedi Mulyadi dalam caption video yang diunggahnya.
Dalam video tersebut, KDM itu bercerita bahwa saat sekolah ia menggunakan name tag bertuliskan “Dedi MH”. Inisial itu justru menjadi bahan ejekan teman-temannya.
“Begitu masuk sekolah pake nametag Dedi MH, disini (menunjuk bagian dada kiri), wah diejek aing ku babaturan. Wah Dedi MH maling hayam ceunah,” ujar Dedi Mulyadi sambil tertawa mengenang masa kecilnya.
- jabarprov.go.id
Dedi kemudian menjelaskan asal-usul nama “Mulyadi” yang diberikan sang ayah. Menurutnya, nama itu memiliki makna khusus karena proses kelahirannya tidak mudah.
“Cuman bapak saya itu Dedi Mulyadi. Mulyadi itu karena lahirnya susah. Jadi gak mau keluar, padahal anak sembilan,” katanya.
Namun sang ayah ternyata sempat ingin menambahkan nama “Hartono” di belakang namanya. Alasannya cukup unik dan menggambarkan situasi sosial pada masa itu.
“Kata bapak saya, kunaon pak kudu pake Hartono sagala? Hayang jadi pejabat, kudu pake Hartono. Karena mungkin jaman itu yang populer memang jadi pejabat yah,” lanjutnya.
Perjalanan Dedi Mulyadi: Dari Anak Kampung hingga Jadi Gubernur Jawa Barat
Cerita masa kecil itu semakin menarik karena kontras dengan posisi Dedi Mulyadi saat ini sebagai gubernur Jawa Barat. Pria kelahiran Subang, 11 April 1971 tersebut dikenal memiliki perjalanan hidup yang cukup panjang di dunia organisasi dan politik.
Dedi Mulyadi mengenyam pendidikan dasar hingga SMA di Subang, Jawa Barat. Ia bersekolah di SD Subakti, lalu melanjutkan ke SMP Kalijati dan SMA Negeri 1 Purwadadi.
Setelah itu, ia menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta dan meraih gelar Sarjana Hukum pada 1999.
Selama kuliah, Dedi aktif berorganisasi dan sempat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta. Karier organisasinya terus berkembang mulai dari dunia buruh, kepemudaan, hingga politik praktis.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPC SPSI pada 1997, Sekretaris KSPSI pada 1998, hingga menjadi Wakil Sekretaris Partai Golkar Kabupaten Purwakarta pada 1999. Karier politiknya makin melejit ketika menjadi anggota DPRD Purwakarta periode 2001-2003.
Setelah itu, Dedi Mulyadi dipercaya menjadi Wakil Bupati Purwakarta periode 2003-2008 sebelum akhirnya menjabat Bupati Purwakarta selama dua periode, yakni 2008-2013 dan 2013-2018.
Pada 2018, ia diusung Partai Golkar untuk maju dalam pemilihan gubernur Jawa Barat mendampingi Deddy Mizwar. Kini, Dedi Mulyadi dikenal sebagai salah satu figur politik paling populer di Jawa Barat, terutama karena gaya komunikasinya yang dekat dengan masyarakat.
Tangisan Masa Kecil Dedi Mulyadi yang Kini Jadi Inspirasi
Di balik kisah lucu tersebut, tersimpan pengalaman emosional yang masih diingat Dedi Mulyadi hingga sekarang. Ia mengaku sempat pulang ke rumah sambil menangis karena tak kuat diejek teman-temannya dengan sebutan “maling hayam”.
“Saya tuh pulang, nangis ke bapak saya. Ganti ngarana, ulah pake H. Mulyadi wae hungkul. Kunaon? teu kuat ku babaturan disebut maling hayam,” ungkapnya.
Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Nama “Hartono” dihapus dan ia lebih dikenal sebagai Dedi Mulyadi hingga sekarang. Menariknya, Dedi kemudian menutup ceritanya dengan kalimat yang mengundang banyak respons positif dari netizen.
“Tapi alhamdulillah, tidak pake Hartono juga jadi Gubernur,” pungkas Dedi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM sambil tersenyum.
Cerita tersebut langsung viral karena dianggap relevan dengan pengalaman banyak orang Indonesia yang pernah memiliki julukan unik semasa sekolah.
Namun di sisi lain, kisah itu juga memperlihatkan bahwa perjalanan hidup seseorang tidak ditentukan oleh nama belakang atau status sosial, melainkan oleh kerja keras dan proses panjang yang dijalani. (udn)
Load more