Tak Mau Tutupi Lagi, KDM Blak-blakan Soal Nama Asli Pemberian Sang Ayah: Dedi Mulyadi Hartono
- jabarprov.go.id
Sementara tambahan nama “Hartono” punya alasan yang cukup unik. Menurut Dedi, sang ayah percaya nama tersebut terdengar seperti nama pejabat pada zamannya.
“Kata bapak saya, kunaon pak kudu pake Hartono sagala? Hayang jadi pejabat, kudu pake Hartono. Karena mungkin jaman itu yang populer memang jadi pejabat yah,” lanjutnya.
Namun karena tak tahan diejek teman sekolah, nama “Hartono” akhirnya dihapus. Sejak saat itu, ia lebih dikenal sebagai Dedi Mulyadi hingga sekarang.
Lucunya, tanpa nama “Hartono” pun nasib Dedi ternyata tetap membawanya ke dunia politik hingga akhirnya menjadi Gubernur Jawa Barat.
“Tapi alhamdulillah, tidak pake Hartono juga jadi Gubernur,” ucap Dedi sambil tersenyum.
Kisah masa kecil itu membuat banyak netizen kagum karena memperlihatkan perjalanan hidup Dedi Mulyadi yang penuh proses. Pria kelahiran Subang, Jawa Barat, 11 April 1971 itu diketahui berasal dari keluarga sederhana.
Ia menempuh pendidikan mulai dari SD Subakti, SMP Kalijati, hingga SMA Negeri 1 Purwadadi. Setelah itu, Dedi melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta dan meraih gelar Sarjana Hukum pada 1999.
Sebelum menjadi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi aktif di berbagai organisasi mahasiswa dan buruh. Ia juga pernah menjadi Ketua HMI Cabang Purwakarta hingga aktif di Partai Golkar selama bertahun-tahun.
Karier politiknya terus menanjak mulai dari anggota DPRD Purwakarta, Wakil Bupati Purwakarta, hingga dua periode menjadi Bupati Purwakarta.
Namanya semakin dikenal luas karena gaya kepemimpinannya yang dekat dengan rakyat dan aktif turun langsung ke lapangan.
Kini, cerita masa kecil tentang ejekan “maling hayam” justru menjadi sisi menarik yang membuat sosok Dedi Mulyadi terasa semakin dekat dengan masyarakat. Banyak netizen menilai kisah itu membuktikan bahwa ejekan masa kecil bukan penghalang untuk meraih kesuksesan besar di masa depan. (udn)
Load more