Pantas Berani Lawan Juri LCC MPR RI, Ayah Bongkar Josepha Alexandra Rajin Belajar sejak Kecil: Ini Anak Gak Stres Kah?
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Ayah Josepha Alexandra, Andre Kuncoro muncul ke ruang publik di tengah polemik penilaian juri final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Andre Kuncoro mengetahui persoalan dihadapi anaknya. Josepha Alexandra, peserta C2 dari Regu C SMAN 1 Pontianak berani protes terhadap penilaian dewan juri Lomba Cerdas Cermat.
Ia pun mempersilakan anaknya ke Jakarta. Ocha sapaan akrabnya, hadir memenuhi undangan dari Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming Raka untuk menyikapi polemik LCC MPR RI.
Selepas itu, Andre menjemput Ocha sepulang dari Jakarta di Bandara Supadio, Kamis (14/5/2026). Di momen ini, ia mengungkapkan tabiat anaknya selain berbicara seputar drama Lomba Cerdas Cermat.
"Ocha hobinya itu di depan laptop, belajar," ujar Andre Kuncoro dinukil tvOnenews.com dari Instagram @kalbaronline, Sabtu (16/5/2026).
Dampak Hobi Josepha Alexandra
- YouTube/MPRGOID
Lebih lanjut, Andre menjelaskan tabiat putrinya yang selalu belajar. Ia memahami hobi Ocha gemar belajar membuat dirinya bangga.
Bahkan, hobi tersebut membawa siswi kelas XI SMAN 1 Pontianak itu tidak suka banyak bicara kepada orang. Sebab, Ocha sudah nyaman selalu berada di kamarnya hanya untuk belajar dan membaca.
Kelebihan ini meringankan Andre. Selaku orang tuanya, ia tidak pernah meminta Ocha untuk belajar lantaran sang anak sudah menikmati waktu belajar tanpa disuruh olehnya.
"Ocha suka memang ini belajar, memang hobinya itu," ucapnya.
Di balik itu, Andre sering kali berpikir dampak hobi dari anaknya. Ia bertanya-tanya apakah kebiasaannya tak membuat Ocha pusing.
Ia tidak menghalangi Ocha jika bermain ke luar untuk menikmati masa kecilnya. Kendati demikian, belajar tak terpisahkan dari anaknya.
Ia menambahkan, Ocha menganggap bermain hanya membuang waktu. Anaknya lebih pilih belajar dan membaca demi mewujudkan cita-citanya.
"Kadang kita orang tua juga khawatir. Ini anak enggak stres kah?," heran dia.
Cita-cita Ocha sejak Kecil
Lanjut, Andre mengungkapkan keinginan yang selama ini didamba-dambakan oleh anaknya. Tak ayal, hal ini berkaitan dengan hobi Ocha yang gemar belajar dan membaca.
Ayah dari peserta LCC MPR RI itu menyampaikan bahwa Ocha mempunyai cita-cita besar sejak kecil. Anaknya ingin sekali menjadi seorang dosen.
"Pas kecil si Ocha ingin jadi dosen, tapi sekarang dia ikut arus saja nanti ke mana. Karena semua bidang itu dia menguasai," ungkapnya.
Kebiasaan dan keinginan besar inilah membawa Ocha mewakili sekolahnya. Ia sering mengikuti kompetisi, termasuk Lomba Cerdas Cermat yang diinisiasikan oleh MPR RI.
Kronologi Polemik Penilaian Juri Lomba Cerdas Cermat MPR RI
Ocha menjadi perhatian publik. Sorotan itu tak lepas dari potongan cuplikan video saat dirinya protes atas penilaian dewan juri viral di media sosial.
Diketahui, final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar digelar di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Di momen ini, ada tiga sekolah yang menjadi peserta merebut gelar juara ajang tersebut, antara lain SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Kronologi polemik babak final LCC ini bermula saat sesi memperebutkan jawaban. Kala itu, seorang MC, Shindy Lutfiana menyebut tentang aspek pemilihan anggota BPK.
Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI selaku dewan juri, Dyastasita WB justru memberikan minus lima poin untuk Regu C. Hal itu sebagai sikap merespons jawaban dari Ocha.
Regu B dari SMAN 1 Sambas kemudian mendapat kesempatan menjawab pertanyaan itu. Menariknya, perwakilannya memberikan penjelasan serupa dengan Ocha dan diberikan nilai 10 beralasan "Inti jawaban sudah benar".
Keputusan tersebut membuat Ocha berani melawan penilaian dari dewan juri. Siswi kelas XI SMAN 1 Pontianak itu mengatakan, "Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama."
Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI selaku dewan juri lainnya, Indri Wahyuni tiba-tiba masuk memberikan pendapatnya. Ia menyinggung kebutuhan artikulasi untuk menjawab pertanyaan sangat penting.
Rekaman siaran langsung MPR RI memperlihatkan momen ketegangan ini viral di media sosial. Publik menyayangkan keputusan penilaian dewan juri karena tidak mendasar. Di sisi lain, warganet memuji keberanian Ocha sebagai gambaran melawan ketidakadilan.
Keberanian itu juga membawa Ocha mendapat tawaran beasiswa ke Tiongkok hingga jaminan bekerja di perusahaan ternama.
Andre ikut memberikan penilaian terkait keberanian putrinya. Baginya, pendapat yang disampaikan buah hatinya menjadi contoh betapa pentingnya sportivitas dan kejujuran.
"Besar sekali hikmah dari kejadian ini. Publik masyarakat Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani dengan ketidakberdayaannya berani menyuarakan keadilan dan kebenaran," papar ayah Ocha.
"Ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa dalam lomba itu sportivitas memang harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, itu hanya bonus, tapi yang lebih penting adalah prosesnya," tukasnya.
(hap)
Load more