2 Modus Licik Pelaku Sekap Kakek 85 Tahun di Surabaya hingga Harta Rp2 Miliar dan Emas 1 Kg Raib
- tvOnenews.com Edit / YouTube tvOneNews
tvOnenews.com - Kasus penyekapan seorang kakek 85 tahun di Surabaya bikin publik geleng kepala. Bukan hanya karena korban dikurung hampir satu tahun penuh, tetapi juga karena pelaku diduga menggunakan rangkaian kebohongan licik demi menguras harta korban hingga Rp2 miliar dan emas batangan 1 kilogram.
Yang lebih mengejutkan, salah satu pelaku ternyata merupakan kekasih anak korban sendiri. Kedekatan dengan keluarga itulah yang diduga dimanfaatkan untuk membuat korban percaya sebelum akhirnya disekap dan diisolasi di apartemen.
Korban diketahui berinisial KC (85). Ia diduga disekap oleh dua wanita berinisial LA dan DW di Surabaya, Jawa Timur. Selama korban hilang sejak Oktober 2025, keluarga sempat percaya bahwa KC sedang bepergian keliling Indonesia bersama pelaku.
Kasus ini mulai terungkap setelah keluarga menerima foto dan pesan suara misterius yang meminta uang tebusan. Polisi kemudian melakukan pelacakan hingga menemukan korban di sebuah apartemen kawasan Educity Surabaya.
Dari hasil penyelidikan, polisi mengungkap ada dua modus utama yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya terhadap korban lansia tersebut.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan uang korban diduga dipakai untuk kepentingan pribadi pelaku.
“Jadi begini, uang yang diambil itu adalah uang yang digunakan untuk kepentingan pribadi pelaku, untuk membayar hutang dan untuk membayar apartemen,” ujar AKBP Edy Herwiyanto dalam tayangan YouTube tvOneNews (15/5/2026).
Modus pertama yang digunakan pelaku adalah membohongi korban soal kondisi anaknya. Pelaku membuat cerita seolah-olah anak korban sedang sakit dan harus menjalani operasi di Jakarta agar korban mau ikut pergi bersama pelaku.
“Modus pelaku menggunakan rangkaian kata bohong kepada korban yang seolah-olah bahwa anaknya atas nama AP itu sakit di Jakarta sehingga korban bersedia diajak pelaku ke Jakarta, padahal pelaku tidak mengajak korban ke Jakarta tapi ada di Semarang dan di Cepu,” jelas AKBP Edy Herwiyanto.
Alih-alih dibawa ke Jakarta, korban justru dipindahkan ke beberapa lokasi berbeda, mulai dari Semarang hingga Cepu. Selama hampir setahun, korban disebut hidup terisolasi di apartemen dan tidak bebas berkomunikasi dengan keluarga.
Load more