Demi Lancarkan Aksi Keji, Pelaku Bohongi Kakek 85 Tahun soal Operasi Anak dan Biaya Sekolah Cucu
- tvOnenews.com - Angelia Nafriana
tvOnenews.com - Kepercayaan seorang ayah lansia kepada sosok yang dianggap calon menantu justru berubah menjadi mimpi buruk. Seorang kakek 85 tahun di Surabaya diduga menjadi korban penyekapan selama hampir satu tahun, setelah dibohongi dengan cerita anaknya sakit hingga alasan biaya sekolah cucu.
Tak hanya disekap, korban juga kehilangan harta fantastis mencapai Rp2 miliar dan emas batangan seberat 1 kilogram. Uang tersebut diduga dipakai pelaku untuk memenuhi gaya hidup mewah selama korban dikurung di apartemen.
Korban diketahui berinisial KC (85), sedangkan pelaku merupakan kekasih anak korban berinisial LA (31). Karena sudah dikenal dekat dan dipercaya keluarga, korban sama sekali tidak menaruh curiga saat diajak bertemu oleh pelaku. Namun setibanya di lokasi, korban justru dibawa dan disekap.
Kasus ini akhirnya terungkap setelah korban berhasil lepas dari penyekapan dan keluarga melaporkannya ke pihak kepolisian. Unit Reskrim Polrestabes Surabaya kemudian bergerak cepat dan menangkap pelaku.
Dalam tayangan YouTube tvOneNews program Kabar Petang edisi 15 Mei 2026, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto membeberkan kronologi bagaimana pelaku melancarkan aksinya.
“Setelah tinggal di apartemen mulai dari bulan April 2025 sampai dengan Oktober 2025, kemudian saudara anak korban atas nama AP oleh pelaku diminta pindah ke apartemen yang ada di Bukit Emas di Surabaya Barat,” ujar AKBP Edy Herwiyanto.
Menurut polisi, setelah itu pelaku mulai menjalankan modus kebohongannya kepada korban.
“Kemudian setelah itu pelaku mengajak korban atas nama KC menerangkan dengan alibi bahwa putranya atas nama AP saat itu sedang melaksanakan operasi di Jakarta. Karena diberi penjelasan oleh tersangka, korban percaya dan mau ikut pelaku,” lanjutnya.
Namun kenyataannya, korban tidak pernah dibawa ke Jakarta. Pelaku justru membawa korban berpindah-pindah tempat agar keberadaannya sulit diketahui keluarga.
“Namun demikian korban tidak diajak ke Jakarta, namun diajak ke Semarang. Setelah sampai di Semarang tinggal di hotel beberapa hari kemudian bergeser ke apartemen yang ada di Cepu yaitu sekitar selama kurang lebih enam bulan di sana, di Cepu,” jelas AKBP Edy Herwiyanto.
Load more