Disebut Sindir Sarwendah, Kuasa Hukum Ruben Onsu Ungkap Alasan di Balik Unggahan 200 Juta vs Waktu Bersama Anak
- Kolase tvOnenews.com / Instagram @sarwendah29 @minola6000
tvOnenews.com - Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, kembali menjadi sorotan setelah unggahannya di Instagram pribadi memicu perdebatan di kalangan warganet.
Unggahan yang dibuat dua hari lalu tersebut dianggap menyinggung pihak Sarwendah terkait polemik hak asuh dan nafkah anak yang masih membayangi Ruben Onsu dan Sarwendah.
Dalam unggahannya, Minola Sebayang menulis pertanyaan, "Mana yg lebih simple, memberikan anak ketemu ayahnya sesuai perjanjian atau memberikan biaya 200 jt setiap bulan?? Apa jawabannya, teman-teman??"
![]()
Unggahan Kuasa Hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang. (Sumber: Instagram @minola6000)
Unggahan tersebut langsung mendapat banyak reaksi dari warganet. Sebagian besar warganet menyatakan bahwa memberikan akses kepada seorang ayah untuk bertemu anak-anaknya jauh lebih mudah dibandingkan menyiapkan biaya 200 juta setiap bulan.
Namun, tak sedikit pula yang menilai unggahan tersebut sebagai bentuk sindiran terhadap pihak Sarwendah, sehingga membuat Minola Sebayang akhirnya memberikan keterangan resmi pada 16 Juni 2026.
Terkait isu biaya nafkah sebesar 200 juta rupiah per bulan untuk anak-anak Ruben Onsu, pihak Ruben menekankan bahwa bagi mereka, meluangkan waktu bersama anak jauh lebih penting dan lebih sederhana untuk dilaksanakan dibandingkan membicarakan masalah uang tersebut.
"Saya enggak menyindir. Saya enggak menyindir. Saya hanya ingin mengajak masyarakat untuk berpikir realistis. Kalau memang misalnya ada kondisi, satu kondisi itu adalah kita menyerahkan anak-anak yang ada dalam kekuasaan kita untuk berkumpul bersama dengan ayahnya atau ibunya sesuai dengan apa yang diperjanjikan, 2-3 hari," ujar Minola Sebayang.
Ia melanjutkan dengan membandingkan kondisi tersebut dengan opsi pemberian nafkah.
"Terus, kemudian ada kondisi untuk memberikan biaya nafkah sebesar 200 juta. Kira-kira mana yang lebih mudah dilaksanakan, mana yang lebih simpel dilaksanakan. Hanya itu saja," katanya.
Minola menjelaskan bahwa pertanyaannya muncul karena ia melihat ada gambaran di masyarakat yang menganggap penyediaan uang 200 juta lebih sederhana dibandingkan memberikan waktu bagi anak untuk berkumpul dengan ayahnya.
"Karena kan kelihatannya seolah-olah gambaran masyarakat ini, menyiapkan uang 200 juta itu lebih simpel daripada menyerahkan anak untuk memiliki waktu kumpul bersama dengan ayahnya. Nah, ini yang kadang-kadang saya perlu tahu, sebenarnya seperti apa pandangan masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti beragam respons warganet terhadap nominal 200 juta yang menjadi polemik.
"Karena kesannya seolah-olah banyak pendapat tentang 200 juta itu. Ada juga sebagian orang yang mengecilkan arti 200 juta, bahkan kemudian membesar-besarkan, dianggap menyombongkan diri," katanya.
Minola menegaskan bahwa nominal nafkah tersebut bukanlah inti dari permasalahan yang sebenarnya.
"Mereka lari dari konteksnya, bahwa sebenarnya 200 juta bukanlah hal yang utama. Yang utama adalah keinginan Ruben untuk bisa berkumpul bersama anaknya sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Jadi, ini yang ingin saya tanyakan kepada masyarakat, mana yang lebih gampang dilakukan," ujarnya.
Ia juga menyinggung sudut pandang dari pihak lain terkait nominal tersebut.
"Karena kalau kita lihat dari yang si S itu, sepertinya 200 juta itu kecil, gampang. Tiga puluh menit juga sudah bisa terkumpul. Artinya, saya perlu tahu kira-kira masyarakat melihatnya seperti apa," katanya.
Pertanyaan inti yang ingin disampaikan Minola, lanjutnya, adalah membandingkan kemudahan dua opsi penyelesaian.
"Mana yang lebih sederhana, mana yang lebih simpel, mana yang lebih mudah direalisasikan, menyerahkan anak-anak itu untuk bisa berkumpul bersama dengan ayahnya 2-3 hari untuk mendapatkan cinta kasih sesuai apa yang sudah diperjanjikan, atau menyiapkan uang tiap bulan 200 juta lebih. Itu saja sih, Mas," ujarnya.
Minola kembali menegaskan bahwa tidak ada niat menyindir pihak mana pun di balik unggahannya tersebut.
"Tidak ada maksud untuk menyindir, hanya untuk supaya masyarakat jadi semakin berpikir realistis. Jangan artinya menilai sesuatu itu karena kita pro dan kontra, tapi artinya kita kalaupun memang misalnya manakah fakta yang sesungguhnya dan hal-hal yang menurut kita lebih logis dan masuk akal," ucapnya.
Ia pun mengungkapkan hasil dari pertanyaan yang dilontarkannya kepada warganet melalui unggahan tersebut.
"Dan ternyata, dari pertanyaan itu, hampir 90% mengatakan yang lebih gampang adalah menyerahkan anak, kan begitu," ujarnya.
Di akhir keterangannya, Minola menekankan bahwa proses pertemuan anak dengan ayahnya semestinya tidak memerlukan hal-hal yang rumit.
"Enggak perlu kreatif, enggak perlu macam-macam, enggak perlu biaya juga. Hanya perlu angkat telepon, dia langsung, ataupun anaknya minta dijemput, kemudian masalah itu selesai, anak-anak bisa berkumpul bersama dengan ayahnya. Kan seperti itu. Tapi kan dibikin sedemikian rupa, seolah menyerahkan anak itu lebih rumit. Yang lebih simpel itu adalah mencari uang yang 200 juta," pungkasnya.
(anf)
Load more