Viral Ratusan Anak Terpapar HIV di Sidoarjo, Ternyata Ini Alasannya
- freepix
Jakarta, tvonenews.com- Waduh media sosial (Medsos) tengah dihebohkan dengan kabar ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV.
Ratusan anak terpapar HIV di Sidoarjo ini, memicu beragam pertanyaan di tengah publik. Salah satunya, mengapa jumlahnya begitu banyak?.
Sehubungan dengan kasus HIV di Sidoarjo, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan kalau temuan kasus banyak bentuk keberhasilan perluasan layanan deteksi dini. Sehingga semakin banyak masyarakat mengetahui status HIV-nya dan dapat segera memperoleh pengobatan, merespons tingginya perhatian publik terhadap penemuan tersebut.
Menurut Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, pihaknya mengajak masyarakat untuk memahami informasi secara utuh dan tidak menimbulkan stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
Sebagaimana HIV merupakan penyakit kronis yang bisa dikendalikan melalui terapi antiretroviral.
"Berdasarkan data situasi HIV Kabupaten Sidoarjo, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun. Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas," jelasnya dalam antara, Selasa (28/7).
Maka tim supervisi, katanya akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan bagi orang dengan HIV, serta memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.
Sehingga bisa memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).
Pasalnya, dari datanya di Kabupaten Sidoarjo tercatat terdapat 163 ibu hamil dengan HIV selama periode 2022 hingga Juni 2026, terdiri atas 49 kasus pada 2022, 40 kasus pada 2023, 35 kasus pada 2024, 30 kasus pada 2025, dan 9 kasus hingga Juni 2026.
Sebelumnya, KPAI dalam keterangannya menyampaikan adanya kasus 522 kasus anak terpapar HIV di Sidoarjo, Jawa Timur termasuk anak PAUD dan TK.
Sehubungan dengan ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk bisa melindungi seluruh anak dengan HIV/AIDS memperoleh akses pengobatan antiretroviral (ARV).
"hak anak atas kesehatan dan pendidikan harus dijamin. Pemerintah wajib memastikan seluruh anak memperoleh akses pengobatan antiretroviral (ARV), layanan kesehatan yang ramah anak, dukungan psikososial, serta tetap dapat bersekolah tanpa diskriminasi," kata Ketua KPAI Aris Adi Leksono, dalam antara.
Perlu untuk diketahui, HIV adalah human immunodeficiency virus, yang merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh yang berguna untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit.
Ketika seseorang terinfeksi virus tersebut bisa merusak sel tubuh, daya tahan tubuh akan melemah dan penderitanya mudah terkena infeksi dan penyakit lainnya.
Sementara itu HIV dapat berkembang menjadi AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome, dalam kurun waktu sekitar 10 tahun. AIDS merupakan stadium akhir dan paling serius dari infeksi HIV, yang ditandai dengan sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi.
Sejauh ini, cara diagnosis seseorang HIV dan AIDS, dokter akan menjalankan tes HIV. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan tubuh pasien, seperti darah atau urine, yang kemudian diteliti di laboratorium. Jenis skrining untuk mendeteksi HIV, antara lain:
-Tes antibodi HIV, seperti rapid HIV test atau ELISA, untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah
-Tes kombinasi antigen-antibodi, untuk mendeteksi protein p24, yang menjadi bagian dari HIV
-Tes asam nukleat, untuk mencari keberadaan HIV di dalam tubuh, yang dilakukan 10 hari setelah pasien terinfeksi.(klw)
Perlu diingat, apabila anda memiliki keluarga yang terpapar HIV sebaiknya anda melakukan tes ke Klinik atau Rumah Sakit terdekat.
Load more